Monthly Archives: November 2008

Ayat-Ayat Hitam Talmud

Standard

talmud-1

Talmud merupakan kitab suci kelompok Zionis-Yahudi di seluruh dunia. Seluruh tindak-tanduk Zionis-Israel mengacu pada ayat-ayat Talmudisme. Bahkan Texe Marrs, investigator independen Amerika yang telah menelusuri garis darah Dinasti Bush selama enam tahun, menemukan bukti bahwa keluarga besar Bush, termasuk Presiden AS George Walker Bush, merupakan sebuah keluarga yang sangat rajin mendaras dan mempelajari Talmud.

“Dinasti Bush adalah dinasti Yahudi dan mereka menjadikan Talmud sebagai kitab sucinya. Adalah salah besar menyangka mereka sebagai keluarga Kristiani. Mereka menunggangi kekristenan untuk menipu warga Kristen dunia. Padahal, mereka merupakan keluarga Talmudis yang taat, ” demikian Texe Marrs.

Kita tentu sudah banyak mendengar tentang Talmud. Namun belum banyak yang mengetahui apa saja ayat-ayatnya. Berikut kami tampilkan sejumlah ayat-ayat Talmud yang menjadi dasar segala tindakan kaum Zionis terhadap orang-orang non-Yahudi (Ghoyim atau Gentilles), dan darinya Anda akan bisa “memahami” mengapa kaum Zionis selalu saja mau menang sendiri, selalu mengkhianati perjanjian, dan sebagainya. Inilah ayat-ayat suci mereka:

talmud-2

“Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang.” (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a)

“Orang-orang non-Yahudi diciptakan sebagai budak untuk melayani orang-orang Yahudi.” (Midrasch Talpioth 225)

“Angka kelahiran orang-orang non-Yahudi harus ditekan sekecil mungkin.” (Zohar II, 4b)

“Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)

“Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang Yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang non-Yahudi.” (Talmud IV/8/4a)

“Di mana saja mereka (orang-orang Yahudi) dating, mereka akan menjadi pangeran raja-raja.” (Sanhedrin 104a)

“Terhadap seorang non Yahudi tidak menjadikan orang Yahudi berzina. Bisa terkena hukuman bagi orang Yahudi hanya bila berzina dengan Yahudi lainnya, yaitu isteri seorang Yahudi. Isteri non-Yahudi tidak termasuk.” (Talmud IV/4/52b)

“Tidak ada isteri bagi non-Yahudi, mereka sesungguhnya bukan isterinya.” (Talmud IV/4/81 dan 82ab)

“Orang-orang Yahudi harus selalu berusaha untuk menipudaya orang-orang non-Yahudi.” (Zohar I, 168a)

“Jika dua orang Yahudi menipu orang non-Yahudi, mereka harus membagi keuntungannya.” (Choschen Ham 183, 7)

“Tetaplah terus berjual beli dengan orang-orang non-Yahudi, jika mereka harus membayar uang untuk itu.” (Abhodah Zarah 2a T)

“Tanah orang non-Yahudi, kepunyaan orang Yahudi yang pertama kali menggunakannya.” (Babba Bathra 54b)

“Setiap orang Yahudi boleh menggunakan kebohongan dan sumpah palsu untuk membawa seorang non-Yahudi kepada kejatuhan.” (Babha Kama 113a)

“Kepemilikan orang non-Yahudi seperti padang pasir yang tidak dimiliki; dan semua orang (setiap Yahudi) yang merampasnya, berarti telah memilikinya.” (Talmud IV/3/54b)

“Orang Yahudi boleh mengeksploitasi kesalahan orang non-Yahudi dan menipunya.” (Talmud IV/1/113b)

“Orang Yahudi boleh mempraktekan riba terhadap orang non-Yahudi.” (Talmud IV/2/70b)

“Ketika Messiah (Raja Yahudi Terakhir atau Ratu Adil) dating, semuanya akan menjadi budak-budak orang-orang Yahudi.” (Erubin 43b)

Inilah sebagian kecil dari ayat-ayat hitam Talmud. Inilah landasan ideologis kaum Zionis dalam hidupnya. Setiap hari Sabtu yang dianggap suci (Shabbath), mereka mendaras Talmud sepanjang hari dan mengkaji ayat-ayat di atas. Mereka menganggap Yahudi sebagai ras yang satu-satunya berhak disebut manusia. Sedangkan ras di luar Yahudi mereka anggap sebagai binatang, termasuk orang-orang liberalis yang malah melayani kepentingan kaum Zionis.

(sumber:rizki)

 

IkHtilat yaNg bagAimaNa…?

Standard

Ikhtilat yang bagaimana…?

Bismillahirrahmanirrahim….

Setinggi-tinggi puji dan syukur dipanjatkan ke hadrat Allah S.W.T diatas limpah nikmat dan kurnianya… dapat ana meluangkan sedikit masa untuk menukilkan satu coretan yang penting bagi meneruskan arena dakwah di sini..

Sememangnya menjadi satu kewajiban bagi para dai’e untuk mengeratkan lagi tautan ukhwah yang mana ia merupakan benteng juga kekuatan dalam meneruskan gerak kerja bersama. Ukhwah bagi ana, ia merupakan satu perkataan yang simbolik pada lahirnya, tetapi bila dipraktikkan dalam kehidupan dai’e, amat berbeza sekali.

Ukhwah sememangnya penting. Tetapi, bagaimana pula yang dikatakan sebagai ukhwah? jika antara muslimat dengan muslimat yang lainnya, atau muslimin dengan muslimin yang lainnya, itu tidak menjadi masalah… bagaimana pula antara muslimin dan muslimat? Hubungan yang bagaimana yang dikatakan sebagai ukhwah? Tidak akan berlakukah masalah ikhtilat?

Persoalan-persoalan yang sebegini sememangnya jarang diutarakan, dan kebiasaannya sahabat sahabiah hanya membuat andaian tersendiri berdasarkan perkara ikhtilat yang dipelajari dan difahami masing-masing.. tetapi, bilamana ia disentuh, tentu sahaja perdebatan yang besar dan berpanjangan berlaku. Masing-masing mempunyai pendapat dan habis segala dalil dan hadith yang dipunggah untuk menjadi kekuatan hujah.

Suka ana sampaikan sebuah kisah dari seorang muslimah yang mengimpikan syahid…

Baitul Qura’…


gw180h1142

Suka ana gelarkan sekolah lama (berasrama)ana sebagai Baitul Qura’ yang memberi makna ‘Rumah Mengaji’. Mungkin dalam bahasa melayunya agak kelakar bunyinya, tapi ana lebih suka sebutan arabnya..

Di Baitul Qura’, banyak yang ana pelajari yang mendidik jiwa rohani dan jasadi ana… akademik menjadi perkara utama. Akademik yang dimaksudkan oleh pendidik dan pelajar disini memberi maksud pelajaran duniya wal akhiroh. Dari subjek matematik(hisab), sains, bahasa, seterusnya kepada pelajaran tafsir hadith, tauhid feqah, ilmu mantiq, balaghah, sorof, dan sebagainya.. itulah akademik yang ditekankan dan amat dititik beratkan di Baitul Qura’.

Bagaimana pula didikan rohani di Baitul Qura’?

Di sini, masa bukan sahaja dianalogikan sebagai emas sahaja, tetapi masa diibaratkan penentu antara syurga dan neraka..sejauhmana kita akan manfaatkan masa yang kita ada untuk mengisi diri dengan ilmu dan ‘amal.. Usrah diadakan seminggu sekali, kuliah maghrib menjadi kewajiban harian, ma’thurat setiap lepas subuh dan asar, tazkirah pendek setiap lepas asar jugak, qiraatil Quran sebelum masuk waktu maghrib dan lepas ‘isya’, qiamullail setiap selang sehari, dan sebagainya.. dan biasanya menjadi kewajipan seminggu sekali akan diadakan ceramah jemputan khas atau tayangan.. segala-galanya tentang ilmu dan Islam…

Ikhtilat yang bagaimana…?

Ana sendiri kalau nak ceritakan mengenai ikhtilat di Baitul Qura’ agak malu sebenarnya.. disana, ana jarang sangat bercakap dengan muslimin.. nak jumpa seminggu sekali pun susah.. walaupun kami bercampur satu kelas, belajar sama2.. kalau takde perkara yang betul2 urgent memang jangan harap la nak bercakap ngan depa.. cara kami adalah melalui surat.. kalau berjumpa sekalipun, pasti paling kurang pun 3 orang dan pasti ada pagar atau kalau di musolla, tabir(hijab) memisahkan kami… kalau dah macam tu, kene cakap kuat-kuatlah, kalau tak mana nak dengar…

Sombongkah aku dengan begini…?

Kalau berjumpa, orang luar yang tak biasa dengan cara kami pasti terkejut. “aiik, diorang ni sape cakap ngan sape ni?”… bukannya diajar supaya begitu, tetapi itulah perkara yang dilakukan yang lahir dari hati… terlalu malu… sifat itu yang kadang-kadang agak melampau… kami buat perjumpaan, sudah pastinya kepala akan tunduk ke tanah… apatah lagi nak memandang mata… kalo bercakap, diibarat cakap dengan pokok disekeliling…atau cakap dengan tanah…atau cakap dengan kucing… tu kalau perjumpaan yang tiada hijab…

Sombongkah aku dengan begini…?

1_437025052l

Kalau bergerak kerja pulak.. ?

Dalam bergerak kerja sebagai pemimpin pelajar di Baitul Qura’, tidak banyak bezanya dengan bergerak kerja disini…meeting, meeting, meeting, dan meeting… tetapi, kami walaupun baru sahaja ditaklifkan sebagai pimpinan, ukhwah itu dah lahir dalam hati kami dengan sendirinya.. walaupun dia lain exco dan ana tak pernah bercakap dengannya.. kami saling berganding bahu, bantu-membantu tanpa perlu dipinta.. saling back-up memback-up, saling faham-memahami tanpa perlu bercerita perihal diri atau berta’aruf panjang.. ta’aruf kami hanya identiti luaran, nama, kelas mana, jawatan ape… tapi, kami faham-memahami tanpa perlu dijelaskan… hanya dengan bergerak kerja bersama, dan masa yang menentukan membuat kami faham antara satu sama lain… pelik bukan? Tapi, itulah yang telah diterapkan dalam diri kami bagi menjaga ikhtilat…

Sombongkah aku dengan begini…?

Kalau terserempak macam mana?

Ana sendiri kalau terserempak dengan muslimin yang satu exco dengan ana, yang paling rapat la kalau bergerak kerja bersama, terserempak di jalanan ibarat lalu sebelah pokok.. ade ke orang tegur pokok “assalamualaikum…”? atau senyum meleret pada pokok? Atau tunduk tanda kita saling kenal dan hormat dengan pokok tu ? huh… ! sekalipun dah bergerak kerja bersama dengan muslimin tu 2 tahun, takdenye kami bertegur sapa… kami hanya bercakap ketika bergerak kerja dan tak pernah sekalipun berbual perihal diri.. apatah lagi perihal latar belakang… Pelik ? tapi itulah kami…

Sombongkah aku dengan begini…?

Ta’aruf panjang pada kami, ibarat nak meminang orang… waktu tu, sudah pastilah resume yang dilampirkan kene panjang lebar… tak boleh 1 @ 2 page sahaja… tetapi tidak dalam bergerak kerja atau menuntut ilmu bersama… ia bukan satu keperluan untuk bergerak kerja…siapa kata kami tak pernah berkumpulan assignment bersama ? atau makan bersama ? tapi, kami secara beramai-ramai(jamaah), berasingan, dan topik perbincangan mestilah satu, dan tak melencong jauh jika tidak perlu…

Sombongkah aku dengan begini…?

Tiada gurauankah di Baitul Qura’… ?

Sudah menjadi lumrah seorang manusia itu perlukan hiburan untuk menjana semangat dalam diri dan menceriakan juga meransang suasana yang harmoni dalam selitan kehidupan harian..

Ana teringat suatu peristiwa di dalam sebuah kelas ‘ilm nahu wa sorof, ustaz Misbahul Munir: “Ya ayyuhal mukhlisin..Ikhlisu ‘ala tolabal ‘ilmi, fainnalahul jannah wa ula ikahumuddarajatul ‘ula.. (wahai orang2 yang ikhlas, ikhlaslah kamu dalam menuntut ilmu, bagimu syurga dan kamu memperoleh darjat yang tinggi)… jadi ustaz nak pelajar sekelian buka kitab nahu tajuk ad-dhomir..” belum sempat ustaz misbah memulakan kelas, tiba-tiba seorang pelajar muslimin: “ustaz, ustaz kan ajar kat kelas lepas maksud-maksud perkataan arab ? kami tanya maksud nama ustaz, ustaz suruh cari sendiri kan ? semalam saya dah cari… maksud misbah tu bukan ke lampu ?’’ apalagi… ketawa satu kelas berhabis.. Ustaz Misbah senyum je.. tak marah ataupun join ketawa sekali… ustaz jawab: “betul..pandai pun!” kami terus senyap… tapi, diorang mane ade senyap terus… esok2nye… kene la ustaz Misbah… ade ke patut diorang panggil, “Ustaz lampu..ustaz lampu…”? nakal memang nakal…tapi, itu hanyalah gurauan semata dan perkara tu berlalu begitu sahaja…

Bukan bermaksud di Baitul Qura’ segalanya baik dan sempurna.. jika diceritakan kebaikannya, begitulah.. tetapi, jiwa remaja sememangnya suka memberontak..

1_541792628l

Ukhwah yang tak dapat dilupakan…

Dalam bergerak kerja, memang banyak perkara yang berlaku sehinggakan terkadang ade yang hampir tersungkur.. lemah tak berdaya.. akan tetapi, penguatnya adalah ukhwah yang terbina dari hati suci yang tidak mengandungi niat dan maksud tersirat.. bukan tak biasa kalau ade muslimat yang jatuh sakit, muslimin hantarkan buah-buahan.. kalau tak pun, ubat-ubatan atau apa sahaja.. walaupun ubat2 tu diorang amek dari bilik sakit.. entah dari mana diorang tau pun kami tak dapat jangka.. kami bukannya kenal sangat latar belakang.. tetapi, ustaz kate, bile ukhwah yang kukuh terjalin, tautan hati dan kesatuan fikiran (wehdatul fiqr) itu sudah pasti..diibarat cubit peha kiri, peha kanan terasa sakitnya.. tak mampu diungkap dengan kata-kata…

Tetapi, kini… ?

Segalanya berubah… semuanya bermula sewaktu ana menuntut di matrikulasi… walaupun bukan pergaulan yang bebas, tetapi pergaulan itu amat perlu dalam berurusan dengan sahabat2 yang bukan sefikrah Islam dengan kita… mungkin perancangan itu sudah dicaturkan dalam diari hidup, tetapi perancangan Allah itulah yang terbaik.

Sombongkah aku dengan begini…?

Pengalaman yang mengajar ana sewaktu di matrikulasi rupa-rupanya penuh hikmah di sebaliknya… Disitulah ana belajar mengawal batas pergaulan seorang muslimah yang sebenar-benarnya dalam soal menjaga perhubungan dengan mereka yang bukan sefikrah dan mereka yang non-muslim… Walaupun kadang-kadang batasan dan juga prinsip yang dipegang itu kadang disalah tafsir sesetengah pihak, tapi tidak kurang juga yang memahami dan menerima dengan pendirian ana begitu… walaupun non-muslim… Alhamdulillah…

Kerana, pengalaman itu sudah cukup menggambarkan bentuk ujian yang perlu ana lalui di Kampus… Dengan situasi yang menghimpit, kerana ana satu-satunya wakil mahasiswi sebagai Majlis Perwakilan Pelajar (MPP) 08/09 daripada 6 orang perwakilan… Segala gerak kerja menuntut kesabaran yang kental dihati dan keteguhan pendirian yang benar2 tinggi dan mantap… Lebih2 lagi 3 daripada mereka adalah non-muslim… pendirian tetap perlu ditegakkan, pada masa yang sama ana perlu memahami sahabat2 yang lain dari sudut keperluan dan sifat juga pendirian mereka serta cara mereka… selagi mana tidak bertentang dengan syara’, ana perlu untuk fleksibel dan faham situasi…

Sombongkah aku dengan begini…?

Mari kita lihat dan renungkan bagaimana berstrateginya perancancangan Allah itu…

Pertama, ana sendiri dilahirkan dalam sebuah keluarga yang mempunyai ramai lelaki… dan ana sendiri mempunyai 2 orang abang dan 2 orang adik lelaki…campur babah, 5 orang lelaki dalam keluarga… Lihat sekarang? Ana perlu bergerak kerja dengan 5 orang lelaki dalam MPP… Walaupun pendidikan ana di Baitul Qura’ begitu menjaga ikhtilat, bukan bermakna ana tidak bijak mengatur pergaulan dengan muslimin @ lelaki… Kerana, itu telah dilatih sejak dirumah… Balance nye perancangan Allah itu untuk diri ana…? Dia mengaturkan ana tinggal di asrama supaya ana tidak terlalu liar dan berperangai seperti budak lelaki… panjat pokok rambutan… main raceling… main bola… kereta mainan… bukannya babah ana tak belikan teddy bear untuk ana, tapi pengaruh adik-beradik yang begitu kuat… Aii, sape nak geng ngan ana kalo ana tak geng ngan diorang kn? Tapi.. tinggal di asrama Baitul Qura’ benar2 mendidik jiwa dan tingkah yang bakal membentuk peribadi muslimah sejati ketika dewasa…

Kedua, Perancangan Allah yang begitu unik dan balance itu terus menerus mengatur hidup ana di matrikulasi… Dia telah mendidik(menurunkan ujian) ana sesuai dengan zaman persekolahan… dan Dia jugalah yang menurunkan ujian bagi menguji tahap pengetahuan, pendirian dan ketegasan ana sebagai muslimah dalam pada diri perlu menjadi seorang pemimpin bagi mad’u yang berbilang kaum dan agama… di matrikulasi.. walaupun hanya ketua tutorial… ana sorang je ketua tutorial ladies, A6T1…dan A6T2-A6T6 kelima-limanya lelaki… Ya Allah, asalnya ana tak pernah bergaul dengan muslimin selain dalam keluarga, sekarang lain jadinya… Takbir!  Allah telah berfirman dalam kitabnya,

“Bagaimana kamu katakan kamu beriman, sedang kamu tidak diuji..?” MasyaAllah.. Ana uhibbuka… ana usykuruka… wa astaghfiruka wa atubu ilaik… Dia.. PerancanganNya… StrategiNya… begitu cantik dan rapi… ujian di matrikulasi hanya sebagai preface untuk ujian yang lebih besar di universiti…

Tiada istilah culture shock yang berlaku pada diri ana… Mungkin itulah perancanganNya… berbeza dengan yang mungkin berlaku pada segelintir sahabat2 ana yang lainnya… Kerana, ana perlu menjadi lebih kuat dari yang lain untuk Islam… Untuk tegakkan Islam… Kalau dulu, sewaktu menjejakkan kaki di labuan… terdetik di hati, ‘’aku harus lakukan sesuatu untuk labuan dan tinggalkan sesuatu di labuan…selagi jasad dikandung badan… ‘’ Hati seorang muslim mane yang tak terusik dikala melihat kekufuran depan mata… bila melihat kejahilan ilmu dalam diri saudara seislam kita… bila melihat arak merata… astaghfirullah… hati ini menangis…

Mugkin kerana sesuatu yang terdetik dihati pada awalnya… mungkin kerana itulah berdirinya ana sekarang ni di bawah Badan dakwah di kampus dan MPP… Kalau sewaktu awal dulu, sebelum mengenali Badan Dakwah, wadah dakwah Islam ana dari sudut ekonomi… dengan cara mencari supplier2 tudung segi labuh di jalan TAR di KL, dengan cara mencari supplier2 buku2 novel Islamic, dan juga produk2 Islam seperti sabun Taharah… Supplier2 ni, ana dapatkan no contact mereka untuk meluaskan pasaran produk mereka di Labuan… link dengan peniaga2 yang berada di Labuan… Tawaran ana bukan untuk merugikan sesiapa, malah membawa keuntungan semua pihak dan target utama ana, adalah penduduk Labuan tu sendiri…

Tapi kini, wadah dakwah yang ana bawa, adalah lebih besar dan lebih berat lagi jika nak dibandingkan dengan dulu… sebagai pemimpin di kampus yang mempunyai kuasa dalam mencorak suasana kampus itu sendiri, lebih2 lagi ana sebagai leader bagi semua mahasiswi…

Ya Allah… kalau diukur kemampuan… memang tiada daya… tetapi kalau diukur dengan semangat untuk melihat bumi ini disinar cahaya Iman dan Islam, seperti fajar menyinsing di kala subuh, segalanya akanku pikul dan itu tidak mustahil dengan kekuasaanMu ya Rabb…

Sombongkah aku dengan begini…?

Hidup di alam universiti memang berbeza… Permasalahan yang berkait rapat dengan tajuk post kali ni sebenarnya, ana tertanya-tanya sombongkah ana jika dibanding dengan yang lain… ? Ana tak pandai bercakap dengan muslimin… melainkan hal penting… apatah lagi bercakap kene pandang mata… ana tak pandai tegur dari jauh kalau terserempak… Mungkin dengan mereka yang non-muslim ana pupuk pergaulan yang lain caranya… sesetengah perkara boleh diubah… dan perubahan itu penting untuk kita bergerak kerja… tetapi, kita sedia maklum, perubahan itu mengambil masa yang panjang… tapi, maaf ana kate, muslimat kene bertegas dengan muslimin…! Kerana itulah yang sebaiknya… Kita yang sefikrah, pasti itu bukanlah diluar kefahaman kita dan diluar keupayaan kita sebagai seorang yang mempunyai fikrah Islam… Jika nak dikaji dengan pengalaman dan setakat ilmu yang ada, itulah yang sebaiknya…

Jadi, ikhtilat yang bagaimanakah yang sepatutnya..? sebenarnya bergantung pada diri kita sendiri… tepuk dada tanya iman… kitalah penentu ikhtilat yang akan kita amalkan sesuai dengan kehidupan seharian dan sesuai dengan kehendak syara’… orang lain hanya sebagai pengkritik bebas yang boleh kita ambil pengajaran darinya dan jadikan anjakan paradigma dalam diri…..

Sombongkah aku dengan begini…?

Wallahu’alam…

Sumber: Sahabat Ana…(HALH)…

AkhoWat SeJaTi

Standard

AKHoWAT SEJATI…Akhwat sejati bukanlah
dilihat dari wajahnya yang manis dan
menawan, tetapi dari kasih sayangnya
pada karib kerabat dan orang
disekitarnya. Pantang baginya mengumbar
aurat, dan memamerkannya kepada
siapapun, kecuali pada mahramnya. Dia
senantiasa menguatkan iltizam dan
azzam-nya dalam ber-ghadul bashar dan
menjaga kemuliaan diri, keluarga serta
agamanya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari
suaranya yang lembut dan mempesona,
tetapi dari lembut dan tegasnya tutur
dalam mengatakan kebenaran. Dia yang
senantiasa menjaga lisan dari ghibah dan
namimah. Pantang baginya membuka aib
saudaranya. Dia yang memahami dan
merasakan betul bahwa Allah swt
senantiasa mengawasi segala
tindak-tanduknya.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari liuk
gemulainya kala ia berjalan, tetapi dari
sikap bijaknya memahami keadaan dan
persoalan-persoalan. Dia yang senantiasa
bersikap tulus dalam membina
persahabatan dengan siapapun, dimanapun
dirinya berada. Tak ada perbendaharaan
kata “cemburu buta” dalam kamus
kehidupannya. Dia senantiasa merasa
cukup dengan apa yang Allah swt
anugerahkan untuknya, juga atas nafkah
yang diberikan sang suami kepadanya. Tak
pernah menuntut apa-apa yang tidak ada
kemampuan pada sang qowwam di tengah
keluarga. Sabar adalah aura yang
terpancar dari wajahnya. Sifat tawadhu’
adalah pakaian yang senantiasa dia pakai
sepanjang perguliran zaman.

1_275133000l

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari
bagaimana dia menghormati dan menyayangi
orang-orang ditempat kerja (wajihah
dakwah), tetapi dari tatacaranya
menghormati dan menyayangi siapapun dan
dimanapun tanpa memandang status yang
disandangnya. Dia yang dilihat
menyejukkan mata dan meredupkan api
amarah. Baitii jannatii selalu berusaha
ia ciptakan dalam alur kehidupan rumah
tangga. Totalitas dalam menyokong dakwah
suami dan berdarmabakti mengurus
generasi penerus yang berjiwa Rabbani

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari
banyaknya ikhwan yang memuji dan menaruh
hati padanya, tetapi dilihat dari
kesungguhannya dalam berbakti dan
mencintai Allah dan Rasulullah. Dia yang
selalu menghindari sesuatu yang syubhat
terlebih hal-hal yang diharamkan-Nya.

Akhawat sejati bukanlah dilihat dari
pandainya dia merayu dan banyaknya

airmata yang menitik, tetapi dari
ketabahannya menghadapi liku-liku
kehidupan. Pancaran kasih sayang melesat
tajam dari tiap nada bicara yang keluar
dari bibirnya. Dia yang memiliki
perasaan yang tajam untuk selalu berbuat
ihsan kala ditempat umum maupun kala sendiri.

picture134

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari
merdunya suara kala bertilawah Qur’an
dan banyaknya hadits yang ia hafal,
tetapi dari keteguhan dan konsistennya
mengamalkan kandungan keduanya. Dia
selalu berusaha mengajarkan pada yang
belum memahaminya. Al-Qur’an dan
As-Sunnah dijadikannya sebagai suluh
penerang serta pijakan dalam menelusuri
lorong-lorong gelap kehidupan.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari
tingginya gelar yang disandangnya serta
luasnya wawasan ataupun lincahnya ia
bergerak, tetapi tingginya ghirah untuk
menuntut ilmu dan mengamalkan syariat
secara murni dan berkesinambungan. Ilmu
yang bermanfaat adalah tongkat yang ia
pegang.

Menjadi akhwat sejati,
niscaya akan membuat iri dan cemburu
para bidadari,
menjadi dambaan bagi mereka para insan
berjiwa Rabbani,
menjadi dambaan bagi mereka para pemilik
ruh dakwah dan jihadiyah,
serta para hamba Allah yang tidak
tertipu oleh gemerlapnya dunia yang semu…….

Menjadi Akhwat sejati,
Seperti yang dicontohkan oleh khadijah,
Aisyah, Hafsah, Maimunah, Shafiyah,
Fathimah Az Zahra, dan para shahabiyah
radiyallohu’anha ajma’in.

# Dipetik dari Buku : “Surat Cinta Untuk
Sang Aktivis” – Musafir Hayat #

-sumber: muslim page-