Monthly Archives: September 2009

512 Tahun Jatuhnya Kerajaan Islam Sepanyol

Standard

ANDALUSIA LAHIRKAN CENDEKIAWAN MUSLIM

Harian Umum Pikiran Rakyat (PR) Bandung
Halaman 14, Selasa (Kliwon) 03 Februari 2004

TENTU kita masih ingat akan sejarah kedatangan Thariq bin Ziyad bersama pasukannya pada bulan Mei tahun 711 M memasuki selat Gibraltar yang terletak di teluk Algeciras, sebagai cikal bakal perkembangan kebudayaan Islam dan kerajaan-kerajaan Islam yang mulai bercokol di tanah Andalusia (sekarang Spanyol). Berkat kedatangan Islam di Andalusia hampir delapan abad lamanya kaum Muslim mengusasi kota-kota penting seperti Toledo, Saragosa, Cordoba, Valencia, Malaga, Seville, Granada dan lain sebagainya, mereka membawa panji-panji ke-Islaman, baik dari segi Ilmu pengetahuan, Kebudayaan, maupun segi Arsitektur bangunan.

Di negeri inilah lahir tokoh-tokoh muslim ternama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan, seperti Ilmu Agama Islam, Kedokteran, Filsafat, Ilmu Hayat, Ilmu Hisab, Ilmu Hukum, Sastra, Ilmu Alam, Astronomi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu dengan segala kemajuan dalam berbagai ilmu pengetahuan, kebudayaan serta aspek-aspek ke-islaman, Andalusia kala itu boleh dikatakan sebagai pusat kebudayaan Islam dan Ilmu Pengetahuan yang tiada tandingannya setelah Konstantinopel dan Bagdad. Maka tak heran waktu itu pula bangsa-bangsa Eropa lainnya mulai berdatangan ke negeri Andalusia ini untuk mempelajari berbagai Ilmu pengetahuan dari orang-orang Muslim Spanyol, dengan mempelejari buku-buku buah karya cendekiawan Andalusia baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.

Di negeri inilah lahir tokoh-tokoh muslim ternama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan, seperti Ilmu Agama Islam, Kedokteran, Filsafat, Ilmu Hayat, Ilmu Hisab, Ilmu Hukum, Sastra, Ilmu Alam, Astronomi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu dengan segala kemajuan dalam berbagai ilmu pengetahuan, kebudayaan serta aspek-aspek ke-islaman, Andalusia kala itu boleh dikatakan sebagai pusat kebudayaan Islam dan Ilmu Pengetahuan yang tiada tandingannya setelah Konstantinopel dan Bagdad. Maka tak heran waktu itu pula bangsa-bangsa Eropa lainnya mulai berdatangan ke negeri Andalusia ini untuk mempelajari berbagai Ilmu pengetahuan dari orang-orang Muslim Spanyol, dengan mempelejari buku-buku buah karya cendekiawan Andalusia baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.

Diantara cendekiawan-cendekiawan asal andalusia tercatat Ibnu Thufail (1107-1185) dilahirkan di Asya, Granada. Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad ibn Abdul Malik ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Thufail al-Qisi, ia pernah menjabat sebagai Mentri dalam bidang Politik di pemerintahan, dan juga pernah sebagai Gubernur untuk Wilayah Sabtah dan Tonjah di Magribi. Sebagai ahli falsafah, Ibnu Thufail adalah guru dari Ibnu Rusyd (Averroes), ia mengusai ilmu lainnya seperti ilmu hukum, pendidikan, dan kedokteran, sehingga Thufail pernah menjadi sebagai dokter pribadi Abu Ya’kub Yusuf seorang Amirul Muwahhidin. Ibnu Thufail atau di kenal pula dengan lidah Eropa sebagai Abubacer menulis Roman Filasafat dalam literatur abad pertengahan dengan nama Kitabnya “Hayy ibn Yaqzan”, salah satu buku sebagai warisan dari ahli filsafat Islam tempo dulu yang sampai kepada kita, sedangkan sebagian karyanya hilang.

Al-Idrisi, lahir di Ceuta pada tahun 1100 M salah seorang ahli Geografi dengan nama lengkapnya Abu Abadallah Muhammad al-Idrisi, yang menulis Kitab Ar-Rujari atau dikenal dengan Buku Roger salah satu buku yang menjelaskan tentang peta dunia terlengkap, akurat, serta menerangkan pembagian-pembagian zona iklim di dunia. Ar-Rujari sebuah karya yang diperbantukan untuk Raja Roger II, dimana buku ini sempat dimanfaatkan oleh orang-orang Eropa baik Muslim maupun non Muslim. Al-Idrisi adalah seorang yang tekun, pekerja keras dan tanpa lelah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat, ia menggali ilmu Geografi dan ilmu Botani di Kordoba Spanyol. Selain itu dalam melahirkan ahli Botani, Andalusia mencatat pula nama Abu Muhammad ibn Baitar atau Ibnu Baitar (1190-1248) yang dilahirkan di Malaga, dialah yang petama kali menggabungkan ilmu-ilmu botani Islam, dimana karyanya dijadikan sebagai standar referensi hingga abad ke-16.

Ibnu Bajjah (1082-1138), ia dilahirkan di Saragosa dengan nama lengkapnya Abu Bakr Muhammad Ibn Yahya al-Saigh, ia adalah seorang yang cerdas sebagai ahli matematika, fisika, astronomi, kedokteran, filsafat, dan penyair dari golongan Murabitin, selain hafal Al-Qur’an beliaupun piawai dalam bermain musik gambus. Kepercayaanya terhadap Ibnu Bajjah dalam bermain politik semasa kepemimpinan Abu Bakr Ibrahim ia diangkat menjadi Mentri di Saragosa. Karangannya yang terkenal adalah an-Nafs (Jiwa) yang menguraikan tentang keadaan jiwa yang terpengaruhi oleh filsafat Aristoles, Galenos, al-Farabi, dan Ar-Razi. Dalam usia 56 tahun Ibnu Bajjah meninggal sebab diracuni dan hasil karyanya banyak yang dimusnahkan, namun ajaran-ajarannya mempengaruhi para ilmuwan berikutnya di tanah Andalusia.

Ibnu Rusyd (1126-1198) lahir di Cordova lidah barat menyebutnya Averroes yang nama lengkapnya adalah Abdul Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Ibnu Rusyd. Ibnu Rusyd adalah seorang ahli hukum, ilmu hisab (arithmatic), kedokteran, dan ahli filsafat terbesar dalam sejarah Islam dimana ia sempat berguru kepada Ibnu Zuhr, Ibn Thufail, dan Abu Ja’far Harun dari Truxillo. Pada tahun 1169 Ibn Rusyd dilantik sebagai hakim di Sevilla, pada tahun 1171 dilantik menjadi hakim di Cordova. Karena kepiawaiannya dalam bidang kedokteran Ibnu Rusyd diangkat menjadi dokter istana tahun 1182.

Karya besar yang di tulis oleh Ibnu Rusyd adalah Kitab Kuliyah fith-Thibb (Encyclopaedia of Medicine) yang terdiri dari 16 jilid, yang pernah di terjemahkan kedalam bahasa Latin pada tahun 1255 oleh seorang Yahudi bernama Bonacosa, kemudian buku ini diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan nama “General Rules of Medicine” sebuah buku wajib di universitas-universitas di Eropa. Karya lainnya Mabadil Falsafah (pengantar ilmu falsafah), Taslul, Kasyful Adillah, Tahafatul Tahafut, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Tafsir Urjuza (menguraikan tentang pengobatan dan ilmu kalam), sedangkan dalam bidang musik Ibnu Rusyd telah menulis buku yang berjudul “De Anima Aristotles” (Commentary on the Aristotles De Animo). Ibnu Rusyd telah berhasil menterjemahan buku-buku karya Aristoteles (384-322 SM) sehingga beliau dijuluki sebagai asy-Syarih (comentator) berkat Ibnu Rusyd-lah karya-karya Aristoteles dunia dapat menikmatinya. Selain itu beliaupun mengomentari buku-buku Plato (429-347 SM), Nicolaus, Al-Farabi (874-950), dan Ibnu Sina (980-1037).

Ibnu Rusyd seorang yang cerdas dan berfikiran kedepan sempat dituduh sebagai orang Yahudi karena pemikiran-pemikirannya sehingga beliau di asingkan ke Lucena dan sebagian karyanya dimusnahkan. Doktrin Averoism mampu pengaruhi Yahudi dan Kristen, baik barat maupun timur, seperti halnya pengaruhi Maimonides, Voltiare dan Jean Jaques Rousseau, maka boleh dikatakan bahwa Eropah seharusnya berhutang budi pada Ibnu Rusyd.

Ibnu Zuhr (1091-1162) atau Abumeron dikenal pula dengan nama Avenzoar yang lahir di Seville adalah seorang ahli fisika dan kedokteran beliau telah menulis buku “The Method of Preparing Medicines and Diet” yang diterjemahkan kedalam bahasa Yahudi (1280) dan bahasa Latin (1490) sebuah karya yang mampu pengaruhi Eropa dalam bidang kedokteran setelah karya-karya Ibnu Sina Qanun fit thibb atau Canon of Medicine yang terdiri dari delapan belas jilid.

Ibnu Arabi (1164-1240), dikenal juga sebagai Ibnu Suraqah, Ash-Shaikhul Akbar, atau Doktor Maximus yang dilahirkan di Murcia (tenggara Spanyol). Pada usia delapan tahun tepatnya tahun 1172 ia pergi ke Lisbon untuk belajar pendidikan Agama Islam yakni belajar Al-Qur’an dan hukum-hukum Islam dari Syekh Abu Bakar bin Khalaf. Setelah itu ia pergi ke Seville salah satu pusat Sufi di Spanyol, disana ia menetap selama 30 tahun untuk belajar Ilmu Hukum, Theologi Islam, Hadits, dan ilmu-ilmu tashawwuf (Sufi).

Karyanya sungguh luar biasa, konon Ibnu Arabi menulis lebih dari 500 buah buku, sekarang di perpustakaan Kerajaan Mesir di Kairo saja masih tersimpan 150 karya Ibnu Arabi yang masih ada dan utuh. Diantara karya-karyanya adalah Tafsir Al-Qur’an yang terdiri 29 jilid, Muhadaratul Abrar Satu jilid, Futuhat terdiri 20 jilid, Muhadarat 5 jilid, Mawaqi’in Nujum, at-Tadbiratul Ilahiyyah, Risalah al-khalwah, Mahiyyatul Qalb, Mishkatul Anwar, al Futuhat al Makiyyah yakni suatu sistim tasawwuf yang terdiri dari 560 bab dan masih banyak lagi karangan-karangan hasil pemikiran Ibnu Arabi yang mempengaruhi para sarjana dan pemikir baik di Barat maupun Timur setelah kepergiaanya.

Ibnu Arabi dengan nama lengkapnya Syekh Mukhyiddin Muhammad Ibnu ‘Ali adalah salah seorang sahabat dekat Ibnu Rusyd. Ia sering berkelana untuk thalabul ‘ilmi (mencari ilmu) dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya seperti ke Maghribi, Cordova, Mesir, Tunisa, Fez, Maroko, Jerussalem, Makkah, Hejaz, Allepo, Asia kecil, dan Damaskus hingga wafatnya disana dan dimakamkan di Gunung Qasiyun.

**

Hampir delapan abad lamanya Islam berkuasa di Andalusia sejak tahun 711 M hingga berakhirnya kekuasaan Islam di Granada pada tanggal 2 Januari 1492 M / 2 Rabiul Awwal 898 H tepatnya 512 tahun lalu, Andalusia dalam masa kejayaan Islam telah melahirkan cendekiawan-cendekiawan muslim yang tertulis dengan tinta emas di sepanjang jaman. Karya mereka yang masih ada banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa di penjuru dunia. Sehingga universitas-universitas dibangun di negeri ini ditengah ancaman musuh-musuhnya.

Itulah keunikan para ulama, cendekiawan-cendekiawan tempo dulu bukan saja menguasai satu bidang ilmu pengetahuan namun mereka menguasai berbagai ilmu pengetahuan yang disegani dan tanpa pamrih, hingga nama mereka dikenang oleh setiap insan. Kini bukti kemajuan akan peradaban Islam tempo dulu di Spanyol dapat kita lihat sisa-sisa bangunan yang penuh sejarah dari Toledo hingga Granada, dari Istana Cordova hingga Alhambra. Dan disinilah berkat kekuasaan Tuhan walaupun kekuasaan Islam di Spanyol telah jatuh kepada umat Kristen beberapa abad silam yang menjadikan Katolik sebagai agama resmi, namun karya-karya anak negeri ini mampu memberikan sumbangsih yang luar biasa bagi umat manusia hingga di abad milenium yang super canggih.

Satu hal yang harus kita renungkan sekarang, apa yang telah engkau berikan kepada bangsa dan umat manusia ini. Kemanfaatan atau Kemadlaratan?.

***

*) Penulis adalah Alumni Universitas Langlangbuana Bandung (Yayasan Brata Bhakti POLRI Jawa Barat).

Mudah-mudahan artikel ini dapat di muat di Media Isnet sebagai pelengkap Artikel yang telah di muat di media Isnet (Alhambra, Bukti Kejayaan Islam di Spanyol) oleh Marsudi Fitro Wibowo, SE. adalah Peminat Sejarah Baik Nasional maupun Internasional. Semoga dapat bermanfaat untuk semua Amiin.

* Berdasarkan artikel ini, kita dapat lihat pembuktian kemampuan dalam melahirkan cendekiawan2 yang mempunyai intelektual yang tinggi dalam membina tamadun. Cendekiawan2 yang lahir ini juga seiring dengan peningkatan teknologi pada zaman dahulu. ketika mana barat baru bertatih dalam membina kembali tamadun manusia, Ketamadunan Islam telah membangun jauh dengan penciptaan segala macam peralatan teknologi yang sehingga kini digunakan dan diinovasikan.

Ana berharap artikel ini dapat membuka mata pembaca sedikit mengenai teknologi Islam. Artikel ini berkait dengan artikel “Siyasah Syar’iyyah” dan InsyaAllah akan datang artikel tentang “Mobilisasi ketamadunan : pembangunan teknologi seiring dengan pembangunan minda dan Ruh Islami”. semoga ana diberi kelapangan untuk menyiapkannya…

Wallahu’alam…

Siyasah Syar’iyyah

Standard

Pengertian Siasah Dari Perspektif Bahasa ‘Arab

Siasah dalam bahasa ‘Arab berasal daripada perkataan “sasa” (ساس) atau “sawasa” (سوس) Dari segi bahasa, ia mempunyai pelbagai maksud dan pengertian. Ia adalah reformasi atau pengislahan dengan berbagai-bagai cara, seperti memberi tunjuk ajar, arahan, disiplin, suruhan dan larangan. Ia berpunca daripada kemampuan pemerintahan atau kepimpinan.

Pengertian Siasah Dari Perspektif Syara’ Perkataan siasah tidak disebutkan di dalam al-Quran, walaupun banyak hadith yang memperkatakan tentang pengertian siasah seperti di atas. Di dalam hadith ada diriwayatkan lafaz “siasah”. Sabda Nabi SAW:

كادت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء، كلما هلك نبي خلفه نبي …)) رواه البخاري ومسلم

Yang bermaksud: “Bani Israel nyaris para nabi memerintah mereka. Setiap kali mati seorang nabi, maka digantikan dengan nabi yang lain..” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Jelaslah di sini bahawa perkataan siasah di dalam syara’ digunakan seperti mana takrifan bahasanya. Jadi ia bermaksud: Perkara yang dilakukan pemerintah atau pemimpin terhadap rakyat, yang bermanfaat, baik, dan berguna untuk mereka samada ia adalah berbentuk suruhan, larangan, tunjuk ajar dan disiplin. Takrifan ini jelas menunjukkan sudut praktikal siasah. Siasah di sini adalah segala urusan, kerja dan tindakan pengislahan.

Skop Siasah Pada Pandangan Fuqaha

Mereka mempunyai dua pendapat mengenai skop siasah, iaitu:

1.  Segala tindakan atau perbuatan yang mendekatkan manusia kepada kebaikan (maslahah) dan menjauhkan mereka keburukan (mafsadah). Walaupun ia tidak disyariatkan oleh Rasulullah SAW dan wahyu tidak memperkatakan tentangnya. Selagi mana ia tidak bertentangan dengan syara’.

2.  Dalam lingkungan bab jenayah dan hukuman berat. Bahkan sama maknanya dengan ta’zir. Ini merupakan pandangan kebanyakan fuqaha Mazhab Hanafi. Skopnya lebih sempit berbanding dengan pandangan pertama.

Siasah Syar’iyyah

Siasah berdasarkan sumbernya, terbahagi kepada dua bahagian utama: Siasah Diniyyah dan Siasah ‘Aqliyyah. Ibn Khaldun menerangkan perkara ini ketika mana dia memperkatakan tentang keperluan wujudnya kanun-kanun siasah yang menjadi kata pemutus (qawanin siasah mafrudhoh) di dalam negara yang diterima pakai oleh semua. Katanya: “Sekiranya kanun perundangan ini diputuskan oleh golongan bijak pandai dan pembesar-pembesar negara serta cendiakawannya, maka ia adalah Siasah ‘Aqliyyah. Sekiranya ia merupakan perintah daripada Allah dengan syari’at yang diputuskan dan disyari’atkannya, maka ia adalah Siasah Diniyyah”.

Bertitik tolak daripada pembahagian Ibnu Khaldun terhadap siasah ini, dia menerangkan jenis-jenis Nizam Siasi yang ada. Dia menyebut: “Kerajaan Siasi: Ia memimpin rakyat berdasarkan pandangan akal dalam memperoleh kebaikan duniawi dan menolak keburukan. Khilafah: Ia memimpin rakyat berdasarkan pandangan syara’ dalam kebaikan ukhrawi dan duniawi yang menuju ke arah ukhrawi”.

Jelas di dalam kata-kata Ibnu Khaldun mengenai kanun perundangan siasah, aspek piawaian siasah dengan menyifatkannya sebagai penggubalan undang-undang yang memerintah. Pembicaraannya ini hampir menyerupai pembicaraan “Al-Ahkam As-Sultoniyyah”. Oleh itu, siasah mempunyai dua aspek: aspek piawaian yang menyeluruh dan aspek pelaksaan dan ‘amali. Maka Siasah Syar’iyyah itu menjaga dua aspek ini. Malah ia terikat dengannya dan tidak terkeluar sama sekali.

Ternyata perkataan siasah sebelum ini tidak digabungkan bersama dengan perkataan syar’iyyah, kerana siasah itu bermaksud pengislahan. Malahan pengislahan yang sebenar tidak akan berlaku melainkan dengan syara’. Apabila para pemerintah tidak lagi memahami siasah Rasulullah SAW dalam pemerintahan, serta siasah mereka menyalahi syara’, maka timbullah istilah Siasah Syar’iyyah. Ia bertujuan untuk membezakannya dengan siasah yang zalim. Ia juga dinamakan dengan Siasah ‘Adilah. Perkara ini dapat diperhatikan melalui tulisan Ibn Taymiyyah dan Ibn Al-Qayyim.

Fiqh Siasah Syar’iyyah

Seterusnya para ‘ulama menggariskan permasalahan yang berkaitan dengan Siasah Syar’iah kepada dua kategori, iaitu:

Pertama : Masalah yang mempunyai nas-nas syar’ie tentangnya.

Kedua : Masalah yang tidak mempunyai nas-nas syar’ie yang khusus mengenainya.

Permasalahan pertama dapat difahami melalui:

1. Pemahaman nas-nas syar’ie dengan kefahaman yang baik, mengetahui petunjuk-petujuknya, memerhatikan syarat-syarat yang diperlukan untuk melaksanakan hukum serta yang halangan-halangan yang menghalang perlaksanaannya.

2. Perbezaan di antara nas-nas tasyri’ umum yang meliputi setiap masa dan tempat – ini adalah asas utama nas-nas syar’ie – dengan nas-nas yang hukum-hukum di dalamnya mempunyai sebab (‘illah) tertentu, terikat dengan sifat tertentu, atau yang meraikan ‘uruf pada zaman tasyri’ dan sebagainya. Sebagai contoh, perkara ini dapat dilihat dalam tindakan ‘Umar ibn Al-Khattab melarang memberi bahagian zakat muallaf, kerana sifat ini telah hilang daripada mereka. Sebelum ini mereka diberi bahagian mereka kerana sifat ini, bukan kerana diri mereka.

Permasalahan kedua pula dapat difahami melalui cara Ijtihad yang matlamatnya adalah menjamin masoleh dan mengelak mafasid. Ijtihad di sini bukan memperoleh apa yang disangkakan masoleh atau mengelak apa yang disangkakan mafasid. Bahkan ia terperinci dengan penelitian Ijtihad yang betul, iaitu:

1. Ijtihad perlu berjalan berdasarkan maqosid syar’iyyah bagi menjamin maqosid dan mengekalkannya.

2. Tidak bercanggah dengan dalil-dalil syara’ yang terperinci (tafsiliyah), kerana tidak wujud sama sekali maslahah yang bercanggah dengan dalil syara’. Walaupun ia nampak seolah-olah baik berdasarkan akal dan pandangan manusia.

Kedua-dua permasalahan ini, terutamanya pada zaman kini, memerlukan kepada penubuhan insititusi-institusi atau suruhanjaya-suruhanjaya yang bertanggung jawab ke atas perlaksaannya agar ia berjalan dengan baik dan cemerlang. Penubuhan institusi-institusi ini agar bersesuaian dengan maqasid syar’iyyah dan tidak bercanggah dengan nas-nas syara’ yang terperinci, adalah salah satu daripada Siasah Syar’iyyah. Ijtihad dalam permasalahan Siasah Syar’iyyah berkemungkinan menimbulkan hukum-hukum ijtihadiyah yang baru selari dengan perubahan zaman untuk kebaikan manusia, atau menafikan hukum-hukum ijtihadiyah yang lama, sekiranya ia tidak lagi mendatangkan kebaikan atau menyebabkan kemudharatan atau tidak lagi bersesuaian dengan perubahan zaman. Atau hukum-hukum ijtihadiyah yang baru lebih mendatangkan manfaat dan mengelak kemudharatan.

Siasah Syar’iyyah Dan Nizom Siasi

Skop Siasah Syar’iyyah yang luas dan banyak ini menyebabkan ia seolah-olah sama dengan Nizom Siasi. Walhal Nizom Siasi itu adalah sebahagian daripada Siasah Syar’iyyah. Nizom Siasi, atau Al-Ahkam As-Sultoniyyah, perbahasan dan perlaksanaannya secara praktikal, usaha untuk menubuhkan institusi-institusinya serta perletakan sistem dan strukturnya, menjadikannya sangat penting. Ini menyebabkan sesetengah ‘ulama masa kini menyamakannya dengan siasah Syar’iyyah. Sedangkan skop perbahasan Siasah Syar’iyyah lebih luas daripada itu. Menjawab tohmahan dan tuduhan yang timbul mengenai Siasah Syar’iyyah, serta penjelasan tentang sistem yang bertentangan dengan sistem Islam; kesalahan dan keburukannya, adalah termasuk di dalam ilmu Siasah Syar’iyyah.

Kesimpulan

Berdasarkan apa yang telah kita perkatakan sebelum ini, wajib ke atas faqih dan orang yang mendalami perkara ini memerhatikan beberapa perkara iaitu:

1. Benar-benar mengetahui dan memahami bahawa syariah sangat menitik beratkan maslahah duniawi dan ukhrawi, secara menyeluruh dan sempurna termasuk maslahah dalaman dan luaran, ini berdasarkan firman Allah swt:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُم

Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu(al-maidah:3)

2. Menelaah nas-nas syara’ secara meluas dan memahaminya terutamanya nas-nas yang menunjukkan siasah ilahiah dan nabawiyyah.

3. Pengetahuan yang luas dan mendalam tentang maqasid syar’iyyah yang dibina di atas kaedah “membawa kebaikan duniawi dan ukhrawi dan menolak kemudharatan”.

4. Perbezaan di antara syar’iyyah yang berbentuk kulliah dan tidak berubah dengan perubahan zaman, dan siasah juziah yang mengikut maslahah serta terikat dan berubah dengan perubahan masa dan tempat.

5. Pengetahuan dan pengalaman tentang keadaan semasa serta memahaminya dengan mendalam dan terperinci, berkemampuan mengaitkan keadaan semasa dengan dalil-dalil syar’ie.

6. Mempelajari siasah syariah pada zaman khulafa’ ar-rasyidin dan memahaminya.

7. Mengetahui bahawa ijtihad dalam siasah syar’iyyah bukan hanya sekadar apa yang digambarkan oleh akalnya sebagai maslahah  tetapi terikat dengan maslahah-maslahah yang diperakui oleh syara’.8. Golongan yang berkecimpung dalam bidang ini perlu memiliki sifat rahmat antara satu sama lain ketika berbeza pendapat dalam ijtihad.

Olahan daripada artikel siasah syariah ta’rif dan ta’sil oleh muhammad bin syakir asy-syarif. (http://saaid.net/Doat/alsharef/ms.htm)

* Lalu, seharusnya dengan berlandaskan prinsip siyasah syar’iyyah itulah kita seharusnya membina negara… bukannya prinsip itu yang seharusnya mengikut dasar negara yang ingin dibina… yang sebenarnya kita jelas dengan pembinaannya hanya mengikut hawa nafsu dan berlandaskan keinginan semata-mata… Prinsip siyasah syar’iyyah Itulah sebenar-benar negara Islam… bukanlah negara Islam hanya pada nama… Bermula dengan dasar inilah yang akan membawa kita kearah gagasan ketamadunan Islam yang telah sekian lama runtuh… Tamadun yang dahulunya gah dengan keilmuwan dan teknologi juga keintelektualan yang dibina… Rujuk slide dibawah:

Wallahu’alam…

Akan datang…

Mobilisasi Ketamadunan : “pembangunan teknologi, seiring pembangunan minda dan Ruh Islami” ….semoga Allah memberi kelapangan untuk menyiapkan artikel ini…

DR. CINTA…??!!

Standard

siapa ni, DR. CINTA…??!!

General_004Pernah didalam induksi program untuk fasilitator, bagi modul LDK Kaizen, dimana moderator meminta fasi berfikir idea gila2… “apa yang antum antunna mahu buat dengan organisasi(sekretariat masjid) kita yang sedia ada ni?”… dan ada antara cadangan ana, nakkan organisasi ni hantar tentera berjuang di Palestin, buka tadika di kampus untuk anak2 lecturer, dan tak dilupa adalah cadangan SM  sebagai ’TOK KADI KAMPUS’…! mula2 memang ketawa semua ahli group ana… tapi cuba kita fikir secara logik kalo betul kita kearah usaha mengatasi masalah couple, ia seharusnya relevan…! kita sekarang di universiti… bukan lagi di alam persekolahan…!

Meeting kelmarin antaranya, sedikit kami membincangkan tentang permasalahan couple di kampus… tak kira di kalangan masyarakat kampus mahupun ahli… ada pelbagai cadangan kearah penyelesaian yang ahli mesyuarat kemukakan… dan ana, teringatkan kisah lalu… menjadi doktor…(konon2 la..)

“Qatrun, ain ade satu rahsia yang ain sembunyi dari qatrun…”

“ape dier ain? Kalo ain sudi kongsi dengan ana?”

”berat ain nak cerite…mesti qatrun marah ain nanti…”

”selama nii…pernah ke qatrun marah orang melulu…? sejauhmana ain     kenal ana nii…? cube bagitau sikit…?”

”hmm…ain ade kenal dengan sorang muslimin nii… kami couple skrg ni…  ain tak dapat tolak dia dari hidup ain… ain tau semua tu salah… tapi ain takut kehilangan dia…dialah orang pertama yang ain jumpa yang sangat baik dengan ain… ain tak mau kehilangan dia qatrun… qatrun jangan  suruh ain clash ngan dia… ye? Qatrun fahami keadaan ain ye?  Qatrun…??!” (ain mula sebak)

”hmm… dah berapa lama couple dengan muslimin tu?”

”dari awal tahun ni…”

”siapa dia? Satu sekolah dengan kita ke?”

”iye…Maulana yang kita kenal… kelas 5 Aisyah… sebarisan dengan kita…”

”Astaghfirullah….” (ana beristighfar…rupe2nye selama ni ade udang disebalik batu semua perjumpaan yang sahabat ana ajak ana temankan…   bukan atas urusan tugas semata2 rupenye..)

Pada ketika itu, ain mula menangis… dia faham maksud istighfar panjang ana yang ana mengeluh begitu berat… ain sahabat ana yang paling ana rapat… dialah sahabat sebilik ana… dialah sahabat satu tingkatan dengan ana… dia jugalah sahabat sebarisan Majlis Perwakilan Asrama(MPA) dengan ana yang paling ana rapat… ketika itu dah masuk pertengahan tahun, barulah semua itu dibongkar dengan ana…

Ana sedih bukan kerana dia bercouple semata2… tapi ana sedih jugak sebab selama ni, ana menjadi titik rujukan Muslimat sebagai tempat mengadu… banyak masalah mereka berkaitan cinta… ana cuba membantu orang lain, tapi rupe2nye sahabat sendiri tak ana perasan masalah yang membelenggunya…

”ain…ana tak mau bercakap tentang hukum…tentang dosa…semua itu      kita sangat maklum…kita belajar tentang itu semua…”

”ain tak sanggup berpisah dengan Maulana qatrun…!”

(dalam hati ana, kalo macam tu, ana kene guna cara lain)

”ana tak minta ain berpisah sekarang…? tapi ana mintak ain kurangkan   dari berjumpa dengan maulana bole? Korang kan selalu jumpa hari2… dah jangan nangis…buruk!”

”ok…bole…bole… insyaAllah ain cuba…”

Sebagai permulaan, ana cuba mengurangkan maksiat mata yang mereka lakukan… tak lekang ana hadiahkan dengan cerpen2… risalah2… malah komik tentang kisah cinta dan dakwah juga ana berikan pada ain… dan juga maulana, ana minta tolong ketua kami di peringkat muslimin… sepanjang proses itu, semakin lama dengan sendirinya ain dan muslimin tu sedar dan mungkin dengan hidayah Allah itu, mereka berubah…

1_538897533l

Ana kenal sangat dengan sahabat ana ni… ain (bukan nama sebenar) bukanlah seorang yang Islamic diluar… disekolah memang wajib dengan etika pakaian bertudung labuh… sebab kami sekolah agama…  Ujian buat dirinya yang paling utama sejak dahulu hingga kini adalah ikhtilat… untuk itu ana tak bole cantas habis2an walaupun fikrahnya jelas tentang ikhtilat… kerana semua itu lumrah yang merupakan fitrah manusia diciptakan berpasang2an dan ingin disayangi… tapi, bagaimana untuk kita mengawalnya? Jangan tertipu dengan bisikan bara api syaitan laknatullah… jangan terpengaruh dengan nafsu yang ingin meraja dan menguasai kewarasan akal… JANGAN!!!

Itu salah satu kisah yang bole ana sampaikan agak detail… belum lagi kisah orang mengadu putus cinta… mengadu diduakan… mintak ana tolong carikan pasangan untuknya (pak cik ana le tu…hehe…)… dan antara yang paling ana ingat, seorang muslimin mengaku berzina dan minta ana bantu dia… kesimpulan yang bole ana buat dalam membantu mereka dan sebagai pengajaran sahabat sahabiah lain diluar sana, kita sebenarnya perlu berbalik kepada Cinta yang kekal abadie… Pemilik kunci hati manusia… Cinta Ilahi Rabbi… (rujuk artikel ‘mana satu pilihan hati?’)

Kadang-kadang ana hairan… seumur hidup ana tak pernah bercouple… apatah lagi berpengalaman tentang cinta… tapi, keadaan membuatkan sampai ada sahabat ana sampai memanggil ana DR.CINTA… ana tak mengaku! Ye laa… ana bukanlah membaiki hubungan couple2 tu semua… tapi, ana cuba membawa manusia kembali kepada cinta sebenar yang kekal abadie… bukan menambah merapatkan pasangan, tapi menjauhkan adalah… ia tidak sesuai dengan pandangan masyarakat yang pasti, kefahaman masyarakat tentang DR.CINTA pastilah pakar kaunseling yang arif tentang merapatkan / memperbaiki hubungan pasangan… dalam istilah perkahwinan ia mungkin baik, dalam memperbaiki Masjid orang yang usang dan hampir roboh… tapi tidak sekali-kali mensarankan bercouple! Na’uzubillah minzalik… yang Haq tetap Haq… Dan yang Batil tetap Batil…

Untuk itu ana membuat kesimpulan dan menyarankan pernikahan… (rujuk artikel Salah satu Sunnah Rasulullah s.a.w)

Semua tu sebenarnya ujian buat diri ana… persepsi dan tanggapan lahir dari situ… dan yang pasti, setiap butir kata yang dilontarkan pasti akan diuji kembali atas diri insan yang mengungkapkannya… mungkin jika di alam kampus, boleh untuk ana mensarankan pernikahan… seperti yang pernah ana sarankan kepada beberapa orang yang pernah meminta pandangan… berbeza dengan alam persekolahan yang lebih mengutamakan pelajaran… semuanya masih bawah umur 18tahun… jika zaman Rasulullah s.a.w, peringkat umur begini sudah layak untuk mendirikan masjid… tetapi undang2 negara kita tidak sama… begitu juga dengan kehendak kedua orang tua kita… untuk itu, sahabat2 ana harus mencari kearah jalan penyelesaian dan bukannya jalan pintas!

3231648872_2d7711c978

“Bila seseorang bernikah bermakna  ia melengkapi sebahagian dari tuntutan agamanya, maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah pada separuh yang tersisa”

(Hadith riwayat Baihaqi)

“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu kasih-sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”

(Surah Ar-Rum,30:21)

Wallahualam…

Hukum beribadah di Masjid bagi Muslimah

Standard

Ibaadah During Ramadhan : Women attending Masjid for Taraweeh/I’tikaf

assalamualaikum…

Question: What ‘ebaadaat are encouraged during this month besides praying Taraaweeh? Also, for the sisters is it okay if they don’t go as much to the masjid or are they encouraged to go to the masaajid? And furthermore i’tikaaf for the sisters – are they required to do this in the masjid and for how long and what are their requirements?

Answer: The first masalah (issue) that she’s asking about is what ‘ebaadaat is encouraged in this month besides Taraaweeh. All ‘ebaadaat are encouraged. The Prophet صلى الله عليه وسلم has gathered about six ‘ebaadaat that are done especially in Ramadaan. They are:
i) Qiyaamul-Layl i.e. Taraaweeh.
ii) Supplication as in the hadith of ‘Aishah رضي الله عنها when she asked him صلى الله عليه وسلم “what should I say (if I see Laylaatul-Qadr)?” and he صلى الله عليه وسلم told her to say:

[1]اللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فاعْفُ عَنِّي

Also Allaah تعالى encouraged us to make a lot of du’aa.
iii) Recitation of Qur’aan.
iv) Feeding the needy and poor and even feeding or giving breakfast to those who are fasting. All of these are ‘ebaadaat.
v) Also, having good relations with your family, your parents and your neighbours, and forgiving the Muslims for whatever harm they may have inflicted upon you. All these are ‘ebaadaat.

And all ‘ebaadah is rewarded more in Ramadaan than outside of Ramadaan. But Qiyaamul-Layl has a special case in Ramadaan. We have to give more in Ramadaan and that’s why although the Prophet صلى الله عليه وسلم encouraged us to do Qiyaamul-Layl all throughout the year, in Ramadaan he صلى الله عليه وسلم said:

[2] من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

[3] من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

[4] من قام خلف إمامه حتى ينصرف كتب له قيام ليلة

All this shows us that it is very important to do the night prayer in Ramadaan – Why? It is because the Qur’aan was descended in (one of those) nights to the first level of the Heavens.

إِنَّا أَنْـزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

{Verily, We have sent it (this Qur’aan) down in the night of Al-Qadr (Decree).} [al-Qadr 97:1]

حم {1} وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ {2} إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ

{Haa.-Meem. By the manifest Book (this Qur’aan) that makes things clear. We sent it (this Qur’aan) down on a blessed night [(i.e. night of Al-Qadr, Surah No. 97) in the month of Ramadaan – the 9th month of the Islaamic calendar].} [ad-Dukhaan 44:1-3]

It was descended at night and so it’s better to do as much night prayer as you can, and much Qur’aan recitation and du’aa. That’s the first part of the question.
24422611338964l
The second part is whether it is better for the sister to pray in the masjid in Taraaweeh or to pray at home. It depends, if you are at your home or house and masha’Allaah you are someone who can concentrate on the Qur’aan without any disturbances, then its better (to pray) in the house. If you say, “Oh, in the house I cannot concentrate, my children make noise and there are lots of things going on and I cannot concentrate” then go to the masjid but with the permission of your husband and if you have no husband then with the permission of the wali, whether it is your father, brother or whoever your wali is. The third thing is when you go to the masjid it must be safe for you to go. You should not go at night if it is unsafe for you to go – you must be safe and you must be in complete hijaab, you must avoid perfume and you should go in tranquillity to the masjid if that is possible. If it is not possible then it is better to stay at home, in all cases the house is better for the woman as in the hadith of Prophet.[5]

The last issue mentioned in the question pertains to i’tikaaf. I’tikaaf is only to be done in the masjid. There is no i’tikaaf in the house, neither for the man nor the woman. However, if someone wants to do i’tikaaf but he is unable to, Allaah will reward him as per his intention because Allaah تعالى deals with (matters of) the heart whilst we deal only with (matters of) the exposed body parts as we cannot know what is in the heart, but Allaah تعالى knows best. If you are willing to go (to the masjid) but you are afraid or scared that something may happen to you, then stay at home and Allaah will reward you, as the Prophet صلى الله عليه وسلم when he saw ‘Aishah, Hafsah and Zainab start building their tents in the masjid he asked “what is that?”. They said “these are tents of the mothers of the believers.” He said:

آلبر أردن

Do they want complete submission and the Pleasure of Allaah then let them go home. And he stopped the i’tikaaf and they all went back home.[6] So i’tikaaf is in the masjid only but if that is not possible then there is no i’tikaaf, you just stay at home and do your best. Also, as I said before i’tikaaf can even be for part of the time i.e. you can do i’tikaaf for one hour as many scholars say, you just intend to do i’tikaaf meaning you stay in the masjid. You have the intention to stay there, not to meet anyone or to have a rest, but to worship Allaah تعالى. If you do this with that intention then Allaah تعالى will reward you. Wallaahu A’alam.

Answered by: Shaykh Mohammad al-Malki

Title of Lecture: Ramadaan 1427 = 2006

Date of the Lecture: Saturday, October 14th, 2006

Listen to Lecture: Click Here

Read the Transcribed Lecture: Click Here

[1] Shaykh al-Albaani رحمه الله says Saheeh in Saheeh al-Jaami` (#4423).

[2] Reported in Saheeh al-Bukhaari, Kitaab al-Eemaan (#37) and Saheeh Muslim, Kitaab Salaah al-Musaafireen wa Qasruhaa (#759)

[3] Reported in Saheeh al-Bukhaari, Kitaab as-Sawm as part of a longer hadith (#1802).

[4] Shaykh al-Albaani رحمه الله says Saheeh in Saheeh al-Jaami` (#2417) with the following wording:

إنه من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة

[5] Reported in Sunan Abi-Daawūd 1/155, Kitaab as-Salaah (#567). Shaykh al-Albaani رحمه الله says Saheeh in Saheeh al-Jaami` (#7458).

[6] Reported with the following wording in Saheeh al-Bukhaari, Kitaab al-I`tikaaf (#1940).

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر أن يعتكف العشر الأواخر من رمضان، فاستأذنته عائشة فأذن لها، وسألت حفصة عائشة أن تستأذن لها ففعلت، فلما رأت ذلك زينب بنت جحش أمرت ببناء فبني لها، قالت: وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا صلى انصرف إلى بنائه، فبصر بالأبنية، فقال: (ما هذا). قالوا: بناء عائشة وحفصة وزينب، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (آلبر أردن بهذا؟ ما أنا بمعتكف). فرجع، فلما أفطر اعتكف عشرا من شوال

This Question is also listed under PRAYER
Masjid Ahlul-Quraan wa As-Sunnah of New york
http://www.seekknowledge.org
http://www.albaseerah.org

Syukur Alhamdulillah…

Standard

SHALL WE NOT BE THANKFUL?

IF EYESIGHT WAS a human invention, its inventor would send us bills detailing all the wonders we’ve seen, the sights we’ve visited, the steps we’ve read, and the people we’ve met. The bill would go on and on. Considering the high price we’d have to pay for just being able to see, only the extremely rich would be able to afford this luxury product called eyes.

Let us now consider the blessings of our tongues. Again, another very profitable area if humans invented it. They would place the price tag as high as they could and feel fully justified—imagine all the communication we would be doing with their product! Phone bills are typical examples of making money off our tongues: when we do not pay the bills, service is terminated—No more talking on the phone. Imagine no more talking with your tongue if you forgot to pay your tongue-bill.

Eyesight and speech are only two of the many priceless blessings Allah has given us for free. All we are asked in return is to be thankful. And even in this we are not compelled by force. But if we chose ingratitude we commit a massive injustice.

Without eyesight, the pleasures of this world are non-existent. An affluent blind man, for example, would surely exchange all his fortune for the ability to see. This blessing of sight alone is worth all the money in the world, but Allah has so graciously given it to us without charge.

On business trips, the company covers the cost of food, lodging, and travel. If we use the company’s money to buy stereo systems for all our friends, they would refuse to cover the cost and our jobs would be in danger because of our abuse of the privilege.

Now imagine if Allah, the Majestic, treated us the way same our employers do, immediately revoking our privileges us after we’ve erred, or even terminating our contracts. We’d all be dead in a flash. For we forever abuse the gifts and blessings He has given us. We use our tongues in ways that displease Him, such as in backbiting, lying, and swearing. And we continue to abuse the gift of eyesight and allow our gazes to wander to sights He has forbidden. The company would fire these employees straight off. But Allah doesn’t fire anyone (pun intended) straight off. He, the most Forbearing, gives us chance after chance.

1314611063243l

Here is another way to look at it. Say you had been a paying customer of a cell-phone service for ten years, your service would be terminated the moment you can no longer pay, despite the thousands of dollars you’ve paid in the past. Yet, Allah does not even take anything from us, and instead overlooks our mistakes and ingratitude. Is there any company in the world that will continue providing services to people who refuse to pay? Yet that is exactly what Allah does, except His service is the gift of life.

Allah does not send us monthly bills or ‘fire” us the way an employer would. He is all aware of our abuses but allows us to use His favors. When someone does a good deed for us, we are so thankful and try to return the favor. Should we not feel compelled to please Allah?

Considering all that He has given us, despite our faults. And He continues to give us so many changes, so we may be able to recognize that and show Him gratitude.

The worst a company can do is discontinuing our services, charge late feels, and send collection agencies after us. Yet, eventually, we can just go to another company for service, just like we can look for another job if we get fired. However, what will happen on the Day of Judgment when a lifetime of abusing the many favors we’ve been given may prevent us from entering Paradise? There is no other Paradise to apply for. There is certainly no other Lord to implore. An early Muslim once said, “(Thankfulness) is to not use His favors for the purpose of disobeying Him”.

So let us pledge to devote our lives to actions pleasing to Allah, the source of all our bounties. That is indeed, the best way to express our gratitude.

(Courtesy: Al Jumuah Magazine)