Monthly Archives: March 2010

Bila Hati Berbicara…(2)

Standard

Perkongsian Hati

Terasa ingin berkongsi satu kata2 yang amat terkesan dihati. Ditujukan buat hati ini dan hati sahabat2 yang ingin mencari sesuatu utk di isi… Ucapan ibnu Aithaillah:

ربما فتح لك باب الطاعة وما فتح لك باب القبول. وربما قدّر عليك المعصية فكانت سببا في الوصول. معصية اورثت ذلاّ وانكسار خير من طاعة اورثت عجبا واستكبارا

(( Kadang-kadang dibuka bagimu pintu taat dan tidak dibuka bagimu pintu penerimaan. Kadang-kadang ditakdirkan bagi engkau perbuatan maksiat, Tetapi hal itu merupakan jalan bagimu untuk sampai kearah kebaikan. Perbuatan maksiat yang menimbulkan perasaan bersalah dan menyesal lebih baik daripada perbuatan taat yang menimbulkan perasaan takabbur dan angkuh.))

Saya kira kata2 di atas boleh kita aplikasikan bagi mereka yang sedang mencari pintu taubat, dan bukannya menjadi penyebab untuk melakukan maksiat. Pintu rahmat dan taubat Allah itu sentiasa terbuka bagi hamba-hambanya.

Setiap perkara yang terjadi itu sentiasa ada ibrah disebaliknya dan memang benarlah allah tidak pernah menjadikan sesuatu perkara itu dengan sia2. Di sisi Allah itu semuanya baik baik dan tinggal kita sahaja mentafsirkan bagaimana caranya.. Semoga bermanfaat bagi diri ini dan buat sahabat2 yang lain.

~Cukup bagiku Allah~

Sumber : Arikah Sadon (sahabat ana)

* Pandangan ana, jalan sudah terhidang dihadapan mata… terpulang pada diri kita sendiri untuk memilih untuk melangkahkan kaki kearah mana… Antara syurga dan neraka… antara dosa dan pahala… antara kebaikan dan keburukan… antara dunia dan akhirat…

“Allah menurunkan ujian sesuai dengan kemampuan hambanya…”

hanya manusia yang beralasan bahawa Allah yang mentakdirkan aku begini dan begini… begitu dan begitu… dengan melemparkan penyebab dosa yang telah mereka lakukan kepada Rabbul Jalil… lalu menyalahkan takdir…

Sesuai dengan keperluan hambaNya, Dia menghantar ujian untuk mematangkan kita… Tak dinafikan, kadang-kadang kita memang keliru… Segala persoalan dibenak fikiran membuatkan kita tertanya-tanya… Dan sudah pastilah Allah lebih tahu jawapanNya… Dia tahu bila masa yang sesuai untuk hambaNya dapatkan jawapan dan hikmah disebalik ujian yang diberikanNya… Kita hanya perlu sabar, dan husnu zhon (bersangka baik) terhadap percaturanNya…

Lebih baik lagi jika kita berfikiran seperti :

“Pandanglah susah dan senang itu ujian…Dimana Allah sedang ‘berbicara’ dngan hambaNya…Nescaya, kita akan rasa nikmatnya redha dan percaya sepenuhnya terhadap Rabbuna wa Rabbu Abaa Ikum…”

Tepuk dada, tanya hati… tepuk hati, tanya iman…

Wallahualam…

Wahai Pemuda! Jangan Layu Sebelum Berbuah…

Standard

WAHAI PEMUDA!

Kemarilah, kemarilah! Kita akan mengukir “cinta”, sebuah janji setia dengan derasnya air mata yang akan membersihkan segala penyakit dan dosa. Kemarilah! Kita perbaharui janji setia itu di dalam hati kita. Kami mendatangimu dengan penuh sukarela dan kami membalasmu dengan cinta.

(Jadilah Pemuda Kahfi, DR. A’idh Al-Qarni, M.A.)

***

Sering di usia produktif, dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar

SEMUA manusia di dunia ini secara fisik tunduk kepada fenomena penciptaan-Nya. Ia akan meniti fase shobi (bayi), thifl (balita), murahiq (pemuda), kuhulah (dewasa), dan syaikh (tua). Makhluk-makhluk-Nya itu selalu bertasbih kepada Allah Swt dengan bahasanya sendiri. Tetapi, usia paling menentukan arah kehidupan seseorang adalah fase murahaqa (puber) dan kuhulah (produktif) antara usia 15-35 tahun.

Ada sebuah ungkapan ahli hikmah: “Siapa yang tumbuh, berkembang pada masa mudanya di atas, akhlak, orientasi (ittijah), kepribadian (syakhshiyyah), karakter, bakat (syakilah) khusus, maka rambutnya akan memutih (al masyiibu) dalam keadaan ia memiliki tradisi (daabu), akhlak seperti itu.”

Ahli sastra Arab dahulu pernah menjelaskan impian orang tua yang ingin kembali pada masa muda. Tetapi, itu suatu kemustahilan.

“Alangkah indahnya jika masa muda kembali lagi hari ini. Aku akan memberitahukan kepada khalayak (ramai) tentang apa yang dilakukan oleh orang yang sudah pikun dan beruban”.

Marilah kita hitung usia produktif dalam logika kehidupan manusia.

Umumnya umat Rasulullah Saw berusia antara 60-70 tahun (HR. Ahmad). Seumpama kita ditakdirkan berumur 63 tahun seperti uswah, qudwah (panutan) kita, 13 tahun pertama tentu tidak masuk perhitungan, berarti tidak bisa kita nilai. Kita belum baligh. Jadi, usia kita yang bisa dihitung 47 tahun.

Jika dalam sehari tidur belasan jam. Yang tersisa setiap hari 2/3. Tinggallah seputar 16 jam. Dalam aktivitas tidur tersebut tidak ada catatan amal. Untuk ukuran ini saja, dari 47 tahun, yang tertinggal 2/3-nya.

Lantas, sebagian besar ke mana? Orang itu produktif pada usia puber atau pada usia tua? Pertanyaan itu perlu kita jawab secara serius. Supaya aktivitas kita bisa dihisab oleh Allah Swt.

Semakin sering kita berhasil menghadapi godaan pada usia muda, seperti itulah ending kita pada masa tua (syaikhukhah). Sebaliknya, semakin sering kita kalah dalam mengantisipasi ujian, seperti itulah akhir kehidupan kita. Pertarungan yang paling berat dan keras adalah pada usia muda. Kalau diibaratkan seperti matahari, maka usia muda adalah ketika sinar matahari berada persis di tengah-tengah kita. Betapa teriknya pada siang bolong itu.

Itulah sebabnya Allah Swt memberikan penghargaan kepada pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Allah Swt (syaabun nasya-a fi ‘ibadatillah). Bahkan Allah Swt memberikan perlindungan di padang Mahsyar, ketika tiada naungan kecuali naungan-Nya. Karena pada usia produktif tersebut dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar. Maka, mengelola masa muda agar tunduk kepada karakter keagamaan merupakan perjuangan yang berliku, licin, dan mendaki. Hanya pemuda yang mendapat rahmat dari-Nya yang berhasil melewati godaan.

“Ya Allah, jadikanlah usiaku yang paling baik adalah pada penghujungnya, dan amalku yang terbaik adalah pungkasannya, dan hari-hariku yang terbaik adalah hari-hari saya bertemu dengan-MU.” [al Hadits].

Secara sunnatullah keberhasilan masa tua kita ditentukan oleh perjuangan yang tak kenal menyerah di masa muda. Keberhasilan mustahil diperoleh dengan gratis (majjanan), tanpa melewati proses ujian. Ibarat anak sekolah, untuk naik kelas harus mengikuti ujian. Jika kita kurang terampil mengelola masa muda dengan menggali potensi thalabul ‘ilmi (ijtihad), taqarrub ilallah (mujahadah), jihad fii sabilillah (jihad), secara maksimal kelak akan kita pertanggungjawabkan di Mahkamah Ilahi (‘an syabaabihi fiimaa ablaahu).

Ali bin Abi Thalib mengatakan:

“Barangsiapa jelek akhlaknya (ketika pemuda), ia akan tersiksa ketika tua.”

Mengikuti Siklus Ibadah

Mengapa kita perlu shalat lima waktu sehari semalam. Kita ibarat membuat kolam renang di depan rumah, setiap kali azan berkumandang kita segera membersihkan lumpur yang menempel dalam diri kita. Sehingga tidak tersisa sisi gelap dalam pikiran dan hati kita, demikianlah sabda Rasulullah Saw.

Allah Swt membuat perencanaan ibadah, agar kita selalu terjaga. Ibadah yaumiyyah, harian (shalat lima waktu), usbuiyyah, mingguan (shalat Jum’at, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari dalam sebulan), syahriyyah, bulanan (puasa Ramadan), sanawiyyah, tahunan (shalat idul fithr dan idul qurban), marrotan fil umr, sekali seumur hidup (ibadah haji ke Baitullah).

Maka, kita perlu membuat standarisasi dalam beribadah. Ada empat kegiatan ubudiyah yang perlu kita lakukan dengan istiqomah (konsisten) dan mudawamah wal istimror (secara berkesinambungan).

Pertama : Shalat fardhu secara berjamaah di masjid

Kedua : Shalat sunnah rawatib ba’diyah dan qabliyah

Ketiga : Membaca al Quran satu juz sehari

Keempat : Ditambah dengan ibadah bulanan

Muhasabah : Seminggu sekali

Ibadah harian yang perlu dipertahankan untuk menjaga stamina ritme spiritual. Ibadah wajib kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt (taqarrub). Ibadah sunnah kita lakukan, untuk membangun kecintaan secara timbal balik antara kita dengan Allah Swt. Jika kita sudah dicintai, aktifitas kita merupakan jelmaan dari kehendak-kehendak-Nya.

Supaya kita dekat dengan diri kita sendiri, kita perlu muhasabah usbuiyyah (intropeksi mingguan). Hati kita mengalami gerakan yang tidak berhenti. Dan itu harus selalu dikontrol. Jika kita sudah mencapai kenaikan grafik amal, dan kekurangan kita bisa kita hitung. Berarti kita dalam posisi ideal. Terjaga dari dosa, hanya Rasulullah Saw.

Bangkit Dari Keterpurukan

Jika kita terjatuh melakukan dosa, kita segera bangkit. Setiap langkah menuju dosa harus kita persempit ruangnya. Karena, dosa kecil yang kita remehkan, akan mengajak kepada dosa-dosa kecil berikutnya. Dosa itu beranak pinak, berkembang biak.

Langkah-langkah untuk bangkit, sebagai berikut:

Pertama: Istighfar (memohon ampun kepada Allah Swt). Bukan sekedar memperbanyak istighfar, sekalipun itu berpahala. Yang paling penting adalah dengan istighfar kita selalu menyadari seharusnya makin hari kekurangan, bau tidak sedap dalam diri kita semakin tertutupi (hilang).

Kedua, beramal. Setiap kali melakukan kejahatan, susullah dengan amal saleh. (ittaqillah haitsumaa kunta wa atbi’issayyiata al hasanata tamhuhaa). Kebaikan itu bisa menghapus dosa. Jika kita senang melakukan satu kebaikan, akan mengajak kepada kebaikan berikutnya. Misalnya, jika kita suka ke masjid, maka dengan sendirinya kita akan termotivasi untuk melakukan berbagai amal saleh di situ. Sholat fardhu, sholat sunnah, membaca Al-Quran, zikir dll.

Rasulullah Saw bersabda : “Jika engkau melihat seorang laki-laki terbiasa ke masjid, saksikanlah sesungguhnya ia seorang beriman.” [al Hadits].

Demikian pula jika kita senang melangkahkan kaki menuju ke tempat maksiat, maka akan mengerakkan untuk berbuat dosa berikutnya.

Jika kita sedang bersemangat dalam beribadah, lakukanlah sebanyak mungkin yang Anda mampu. Jika grafik ibadah menurun, minimal pertahankan yang wajib. Hati kita elastis, fluktuatif. Kita memiliki saat maju dan saat mundur. Dengan cara di atas kita bisa mengelola naik turunnya hati kita dengan baik.

Terakhir: Berdoa kepada Allah Saw, semoga kita tetap teguh dalam agama-Nya. Ya muqollibal qulub tsabbit qolbii ‘alaa diinik (Wahai Yang Membolak Balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-MU).

Penutup, wahai para pemuda, ingatlah falsafah pohon pisang. “Janganlah mati sebelum berbuah.”

[Abu Hilyatil Auliyah Hadziqoh/hidayatullah.com]

Bila Hati Berbicara…(1)

Standard

Bila hati yang berbicara… llidah kelu tak terkata… Tiada kata yang mampu dilafaz… Hati berdetik malu kepadaNya… Meskipun berdiri dihadapan makhluk juga hamba ciptaanNya, tetap tak mampu mengangkat wajah… Kaku untuk bertingkah… Keyakinankah yang hilang…? Atau apa..?

Hati terus-menerus bertasbih dan bertahmid padaNya… Debaran masih terasa… Teringat pula kalam Sang Pencipta… Tika mana amanah yang tergalas dibahu perlu diselesaikan buat terakhir kalinya… Diantara dua insan yang akan kupilih untuk menjadi pemimpin dikalangan kami, Istikharah memberiku jalan… Melalui 2 ayat dari KalamNya… Sesiapa yang memilih ayat 84, dialah pemimpin kami! dan tidak pula bagi sesiapa yang memilih ayat 82…

“Dan orang-orang yang kelmarin mengangan-angankan kedudukannya (Qarun) itu berkata, “Aduhai, benarlah kiranya Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hambaNya). Sekiranya Allah tidak melimpahkan karuniaNya pada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).”

(Surah Al-Qashas, 28:82)

“Barangsiapa datang dengan (membawa) kebaikan, maka dia akan mendapat (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa datang dengan (membawa) kejahatan, maka orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu hanyadiberi alasan seimbang dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.”

(Surah Al-Qashas, 28:84)

Maka telah tersurat takdir mereka di Loh Mahfuz, hanya seorang yang akan dipilih mengetuai barisan jundullah… yang akan meneruskan rantaian perjuangan… Biarpun manusia hanya merancang, tetap Allah adalah sebaik-baik perancang… Hati kotor manusia tidak selayaknya untuk memilih… kerana belum tentu yang dipilih adalah berdasarkan kehendakNya…

Lantaran itu, yang berada dibawah harus redha dengan keputusan yang dibuat… Siapapun yang terpilih, pasti ada hikmah disebaliknya… peranan kita pula yang pastinya dipertikai diakhirat kelak… tiada insan yang sempurna, maka haruslah saling menampung satu sama lain… juga saling memaafkan… Hati ini terus-terusan berbicara…

Tidak layak rasanya diri ini untuk membuat pilihan… maka, mengharap pada Dia untuk memberikan petunjukNya… Ya! inilah masanya… Masa yang telah tiba… masa yang ditunggu lama dahulu… masa yang diharap pada sahabat agar memahami… jangan disentuh sekeping hati ini sebelum masanya… Jika bertanya pada hati, katanya, “aku ingin sambung belajar… Master targetku!” Namun, Dia lebih berkuasa… Jika dia tidak memperkenankan, pasti ada caturan terbaik untukku yang telah dahulu lagi sebelum aku diciptakan, tercatit didalam kitab itu susunan aturan hidupku… Maka redha bentengku daripada bersangka buruk terhadap Penciptaku…

“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran) Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram padanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”

(Surah Ar-Rum, 30:21)

“Dan tidakkah mereka memerhatikan bahawa Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia (pula) yang membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang beriman.”

(Surah Ar-Rum, 30:37)

Tikamana aku mencari… cahaya dan petunjukNya… Dalam pada aku harus memilih insan yang seharusnya menerajui barisan jundullah di kampusku, aku juga diperintah olehNya untuk bersedia dalam mencari dan memilih, seterusnya merancang untuk insan yang bakal menerajui hidupku yang pastinya kuharapkan dia memanduku menuju RedhaNya… Yang membawa aku lebih intim kepada CintaNya…

Jika selama ini tiada siapa yang mampu mematahkan pendirianku… tetapi, apabila kalamNya berbicara… hatiku menjadi perkara kedua yang kutolak tepi buat sementara… Perjuangan ini perlu diteruskan mengikut redhaNya…

Ketika inilah ujian demi ujian yang besar hadir mengganggu ketenanganku… Umpan kesenangan ditanah asalku membuatkanku dilemma… Antara perjuangan yang mudah atau yang susah bakal aku pilih… Teringat pula pak menakanku pernah mengatakan…

“Hayfaa, bila konvo? tokusu nak datang sane la… nanti lepas ni kalo nak sambung study, sambung je kat semenanjung… kalo nak keje, keje je kat semenanjung banyak kaunter ‘Islamic Finance’ yang dibuka di semenanjung. Cakap je Hayfaa nak mana, InsyaAllah tokusu bole carikan…”

“Hmm…Jadi, macam mana Hayfaa nak tinggal borneo ni? tokusu dah umpan macam-macam nih…! Kalo Hayfaa dapat calon kat sini macam mana?”

“Kalo ade calon kat sana takpelah…tapi kalo takde, balik je la semenanjung… tak ada ape jugak kat sane…”

“Hmm…tengoklah dulu ye tokusu? praktikal memang dah dapat kat Labuan… tapi, lepas tu baru Hayfaa bagitau nak ke mana pulak k…?”

“ok…”

Mana mampu aku berdalih setiap kali disoal? insan-insan yang membesarkanku di tanah basah itu tidak harus kupersalahkan kerana kerisauan mereka… Kerisauan terhadap anak gadis yang mereka lihat ia membesar dihadapan mata, berada jauh diperantauan… Anak gadis itu begitu berani untuk jauh dari genggaman mereka… Dia harus memilih untuk memenangkan kesemua hati-hati insan yang melihatnya membesar atau memilih untuk memenangkan diri sendiri… Saat mereka berselisih pendapat itulah saat yang paling sukar… sukar untuk memilih yang mana harus dimenangkan… Lantaran itu, dia memilih untuk merantau… Namun kini, dia harus kembali kepada mereka… atau harus mendirikan kehidupan sendiri… Yang meyakinkan! Meyakinkan mereka untuk melepaskannya…

Aku? Hatiku ini terus-menerus berbicara… Bila hati yang berbicara… sudah pastilah mulut terkunci tanpa kata… Seakan-akan kupunyai duniaku yang kedua… Berat sekali untuk membuat keputusan… Yang pasti, bicara dan cahaya petunjukNya yang diharapkan untuk memimpin hati, fikiran dan keputusan yang bakal dibuat…

Ya Rabbi, tunjukkanlah aku jalan…!

Aku perlu berada disini… dibumi ini… bumi yang ketandusan pancaran iman dan Islam… mana mungkin aku bisa melepaskan tanggungjawabku disini…? Selagi belum pasti ada yang akan menggerakkannya… Perlu untuk aku meninggalkan ‘sesuatu’ disini… dibumi ini…

Jalan ini dipilih bukan kerana hati, tapi keranaNya… Kuketepikan semua kepentingan diri bukan kerana hati, tapi kerana Rabbuna wa Rabbu abaa ikum… Walau macam manapun, Aku harus pilih!

Ya Rabbi, tunjukkan aku jalan…!

sumber : HALH

Adab Berbicara, Berdebat Dan Mendengar Pendapat

Standard
ADAB BERBICARA

  1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan:

“Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)

  1. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:

“Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)

  1. Seimbang dan menjauhi berlarut-larutan, berdasarkan sabda nabi SAW:

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak bercakap dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)

  1. Menghindari banyak berbicara, karena khuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il:

Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai abu AbduRRAHMAN (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi SAW dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq ‘alaih)

  1. Mengulangi kata-kata yang penting jika perlu, dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau SAW mendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)
  1. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH SWT keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

  1. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW:

“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)

  1. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)

  1. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)

  1. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW:

“Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)

  1. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)

  1. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW:

“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)

  1. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:

Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim)

Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)

ADAB MENDENGAR

  1. Diam dan memperhatikan (Surah Qaf, 50:37)

“Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”

  1. Tidak memotong/memutus pembicaraan
  2. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)
  3. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.
  4. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara

ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU

  1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian
  2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal
  3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara
  4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih
  5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
  6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah
  7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat
  8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi
  9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya
  10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.

Wamaa taufiiqi illaa biLLAAH, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.

-sumber : dakwah.info-