Monthly Archives: April 2010

Salam Imtihan…

Standard

Assalamualaikum…

Salam sejahtera…salam perpaduan…salam ukhwah…

Kepada semua yg bergelar mahasiswa… pelajar…murid… tak kira seorang guru…seorang pekerja… seorang majikan…seorang ibu…seorang bapa…seorang anak…seorang sehabat… seorang musuh…seorang adik…seorang abang…seorang kakak…seorang yg dikenali… ataupun seorang yg x dikenali… semuanya berhak mendapat ucapan doa selamat…

Kerana semunya bergelar manusia…juga berpangkat sebagai hamba kepada penciptaNya… yg sememangnya lemah zatnya… yg selayaknya diuji olehNya… InsyaAllah…

Ma’a thamaniyat bittaufiq wannajah… Fil Imtihan…

Semoga kita sama-sama berjaya dalam peperiksaan akhir semester sesi 2009/2010…

Refleksi Laut dan Nelayan…

Standard

Naqib meminta kami memerhati dengan penuh penghayatan dengan melemparkan pandangan nun jauh ketengah laut. Beliau bertanya kepada setiap dari kami tentang 2 benda yang kami dapat lihat dihadapan kami. “Hmm… ni ke sebabnya kami dibawa berusrah di tepi pantai..?” hatiku berbicara…  ada yang memberi jawapan mereka dapat lihat ombak dan nelayan… ada yang melihat nelayan dan perahu… ada yang melihat burung-burung dan peraih… dan aku? Aku melihat Pulau Kecil dan awan… Kenapa itu yang menjadi pilihan? Kerana, padaku, ingin sekali aku menggapai awan, dan bertanya kepada awan…

“Wahai awan makhluk ciptaan Allah yang bisa terawang-awang dilangit bumi… yang menjadi pemerhati segala kejadian dan perilaku manusia yang tidak pernah rasa bersyukur… Ajarkan padaku erti syukur dengan nikmatNya.. Ajarkan pada manusia yang selalu sombong dengan TuhanNya… Kerana engkau lebih gah diatas sana… tetap sentiasa bersyukur dengan pemberianNya… dan tidak pernah sombong dan angkuh dalam memilih jalan untuk dekat dengan Rabbuna fil ‘alamin…”

Pulau kecil yang bersendiri ditengah lautan, ingin sekali aku bertanya padanya, “Kenapakah kau memilih untuk mengasingkan diri? Apakah engkau tidak sanggup melihat kemungkaran manusia terhadap Tuhannya? Adakah engkau sedih akan perilaku hamba yang digelar manusia yang berkali-kali ingkar kepada perintahNya? Betulkah engkau tidak sanggup berada dekat dengan dataran ini yang penuh dengan maksiat dan arak yang semakin hari semakin banyak dan berleluasa? Adakah kerana engkau tidak mampu untuk mengubahnya, lalu engkau bersendiri dengan ber’uzlah daripada kaum yang sentiasa bermaksiat bukan dengan Rabbuna fil ‘alamin…?”

Hmm..berat sekali hati dan fikiran ini berteka-teki  tanpa mengetahui apakah yang sedang awan dan pulau kecil itu fikirkan dan lakukan… Malunya aku sebagai manusia… kerana manusia itu angkuh, lalu menerima tawaran Yang Esa untuk menjadi Khalifah dimuka bumi, biarpun gunung yang terpasak megah itu menolakNya…  Walaupun demikian, Alhamdulillah jika manusia bisa mentadbir bumi dengan membawa semuanya kembali kepadaNya… tapi sebaliknya tidak..! aku malu dengan awan dan pulau kecil itu… kerana aku manusia, malah seorang muslimah yang bakal melahirkan manusia… apakah akan aku bisa melahirkan dan mendidik insan yang bakal membawa manusia mendekatkan diri pada Rabbul Jalil…? Atau aku yang menjadi penyebab lahirnya generasi manusia yang angkuh dan sombong terhadap Rabbuna wa Rabbu abaa ikum…? Hmm… betul-betul aku malu dengan awan dan pulau kecil itu…

Memerhati dan berbicara dengan alam lebih menenangkan… walaupun mereka tidak bisa berbicara… kerana mereka tidak pernah, dan tidak  akan menyakitiku… mereka tetap sudi menjadi temanku… tetap sudi mendengar luahan dari hatiku… tetapi kalau manusia, biarpun mereka satu spesis denganku… sentiasa menyakitiku… zahir dan batin… hmm.. mungkin sebab tu la kot kalo raya, mesti orang mintak maaf zahir dan batin…

Pengajaran yang dapat kita peroleh dari sesi ini, adalah penghayatan dalam mendekatkan diri bagi mencontohi ‘Ulul Albab’… hmm… belum layak lagi ana digelar itu… sangat jauh!

sumber : (HALH) @ Dzatun Nithaqain

Tokoh Pejuang Jihad…

Standard

“Persiapkanlah jiwa-jiwa kalian untuk melakukan kerja yang mulia dan besar, berusahalah untuk mati secara mulia sehingga Allah akan memberikan kehidupan kepada kalian, dan ketahuilah bahwa kematian itu pasti akan datang, dan hal itu terjadi hanya satu kali; jika kalian menjadikannya mati di jalan Allah maka itulah sebuah keberuntungan di dunia dan ganjaran yang besar di akhirat!”

Hasan al-Banna (ketika mengajak seluruh umat Islam untuk berjihad di Palestina pada tahun 1948)

“Jika ajalku telah tiba, maka tak ada seorang pun yang mampu mencegah kematianku, namun jika kematian belum saatnya maka apa pun usaha mereka tak mungkin akan berhasil juga!”

Abu A’la al-Maududi (setelah mendengar vonis hukuman mati pengadilan karena menentang Ahmadiyah)

“Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha illa Allah.”

Sayyid Quthb (ketika menanggapi seorang syeikh suruhan pemerintah Gamal Abdul Nasser yang meminta Quthb mengingat Allah tatkala bersiap-siap dieksekusi hukuman gantung)