Vaksin Pencegah Maksiat

Standard

“Memprihatinkan ya ki” Kata Maula, sesaat setelah melihat berita di televisi.

“Apa yang memprihatikan Nak Mas?” Tanya Ki Bijak.

“Ini ki, hampir disetiap stasiun TV memberitakan berbagai kasus ‘pelanggaran’ yang terjadi di negeri ini, katanya ada mafia pajak, katanya ada mafia hukum, katanya lagi ada jual beli ruang penjara, belum lagi berbagai pelanggaran syariat dan kesusilaan, masya Allah, ana jadi bergidik mendengar dan melihatnya ki.” Kata Maula.

Ki Bijak menarik nafas panjang demi mendengar penuturan Maula, “Benar Nak Mas, sangat memprihatinkan bahkan, negeri yang indah dan elok ini, seakan menjadi panggung bagi pertunjukan berbagai pelanggaran yang sedemikan nyata di hampir setiap lapisan masyarakat kita.” Kata Maula.

“Apa yang sedang terjadi di masyarakat kita ki?” Tanya Maula.

Lagi, Ki Bijak menarik nafas dalam-dalam, nampak matanya menerawang jauh; “Aki tidak terlalu pandai untuk menjelaskan apa sebenarnya yang tengah terjadi di masyarakat kita sekarang ini Nak Mas, hanya dari kacamata Aki yang sempit dan terbatas ini; tengah terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat kita, baik itu nilai sosial, nilai susila dan bahkan nilai-nilai agama.” Jawab Ki Bijak.

“Lalu ki?” Tanya Maula lagi.

“Khusus dalam pergeseran nilai agama, sekarang ini Aki melihat bahwa sebagian masyarakat kita tidak lagi ‘peduli’ dengan peringatan Allah dalam al-Qur’an; salah satunya adalah peringatan Allah dalam surah Yunus:61; Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat dimaksud;

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Yunus:61)

“Ana masih belum paham ki,” Kata Maula sambil mencoba mengartikan ayat tersebut;

“Begini Nak Mas, ada banyak ayat al-Qur’an, selain ayat ini, yang dengan gamblang menyatakan bahwa setiap gerak kita, setiap langkah kita, setiap perbuatan kita, dan bahkan setiap hal yang tersirat dalam hati kita, atau terbersit dalam fikiran kita, semuanya dilihat, dicatat di kitab Allah, tidak ada satupun yang luput dari pandangan Allah; dan kelak dimintakan pertanggung jawaban di pengadilan yaumil akhir.” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki?” Tanya Maula lagi.

“Lalu kesadaran, keyakinan, dan keimanan terhadap Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar ini sudah banyak bergeser dari hati sebagian masyarakat kita, sehingga mereka lebih takut pada atasan, lebih takut pada pengawas, lebih takut pada mandor daripada ketakutan terhadap Allah yang telah menciptakan mereka.”

“Banyaknya pelanggaran seperti korupsi yang sekarang banyak dibicarakan, akar masalahnya bukan semata pada lemahnya pengawasan lembaga terkait, lebih dari itu akar masalah yang menyebabkan mereka tergelincir untuk melakukan perbuatan yang melanggar hukum, adalah karena mereka menganggap Allah itu tidak ada.”

“Orang yang berniat korupsi, hanya takut ketahuan polisi, yang sekarang ternyata ada juga oknum polisi yang berkolusi jahat dengan sesama penjahat.”

“Orang yang berniat jahat, hanya takut dipenjara, padahal sekarang ini, penjara dan pengadilan dengan gampang diperjual belikan.”

“Orang yang berperilaku menyimpang hanya takut dengan dakwaan jaksa, yang kita tahu belakangan ini, banyak jaksa nakal yang rela menukar kehormatannya dengan sejumlah uang.”

“Kemiskinan iman dan keyakinan terhadap existensi Allah yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui inilah yang kemudian membutakan mata mereka untuk berbuat ‘jahat’ yang banyak merugikan masyarakat.” Papar Ki Bijak panjang lebar.

“Iya ya ki, kalau Cuma takut polisi, toh polisi juga manusia yang masih suka sama duit, kalau hanya takut pada jaksa, toh jaksa juga manusia yang tidak luput dari kelalaian, kalau Cuma takut penjara, toh penjara di dunia ini tidak lepas dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, lain halnya dengan takut kepada Allah ya ki, di setiap saat, di setiap waktu, di manapun, kapanpun, tidak akan lalai dan lengah mengawasi setiap perbuatan kita.” Kata Maula mulai mengerti.

“Rasanya kita perlu berkaca lagi pada kisah Jahdar Bin Rabi’ah Nak Mas.” Kata Ki Bijak lagi.

“Jahdar bin Rabi’ah ki?” Tanya Maula

“Ya Nak Mas; Nak Mas masih ingat dengan kisah Jahdar bin Rabi’ah, yang sebelumnya adalah ahli maksiat.” Kata Ki Bijak.

“Iya Ki, Jahdar bin Rabiah kemudian meminta nasehat kepada Ibrahim bin adham mengenai bagaiman ia bisa lepas dari perbuatan maksiatnya.” Kata Maula.

“Lalu?” Tanya Ki Bijak menguji.

“Lalu sang Syekh memberikan lima ‘syarat’ kepada Jahdar jika ia masih ingin bermaksiat, syarat yang pertama; Jahdar bin Rabiah ‘boleh’ bermaksiat’, tapi ia dilarang memakan rezeki dari Allah.”

“Syarat yang kedua; kalau ia masih makan rezeki dari Allah, sementara ia masih ingin melakukan maksiat, maka Jahdar tidak boleh tinggal dibumi Allah.”

“Syarat yang ketiga, kalau Jahdar tahu bahwa ia makan rezeki dari Allah, dan kemudian tinggal di bumi Allah, tapi masih ingin bermaksiat, maka Jahdar harus menemukan tempat yang tidak terlihat oleh Allah.”

“Syarat keempat, jika ia menyadari masih makan rezeki dari Allah, tinggal di bumi Allah dan menyadari tidak ada tempat yang luput dari pandangan Allah, maka ia harus mampu menolak kedatangan Malaikat maut yang hendak mencabut nyawanya.”

“Dan yang kelima, setelah Jahdar menyadari kemustahilan untuk memenuhi keempat syarat tadi, tapi masih berkeinginan bermaksiat, maka ia harus mampu menolak Malaikat Zabaniyah yang akan menyeret orang-orang berdosa ke dalam neraka.” Papar Maula dengan lengkap.

“Subhanallah, Nak Mas masih ingat dengan baik apa yang Aki ceritakan beberapa waktu lalu, Nak Mas tahu di mana perbedaan sikap Jahdar dulu dan sikap sebagian kita sekarang ini?” Tanya Ki Bijak.

Mauala terdiam sejenak, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan gurunya; ’apa perbedaan Jahdar dengan sikap kebanyak kita sekarang’, “Apa ya ki.” Kata Maula beberapa jurus kemudian.

“Perbedaan pertama; Jahdar, dalam perjalanan menuju tobatnya, menemukan kebenaran bahwa tidak mungkin kita tidak memakan rezeki dari Allah, Jahdar menyadari setetes air yang minumnya, sebutir nasi yang makannya, udara, sinar matahari, ia tidak bisa membuatnya, semuanya rezeki dari Allah,”

“Sementara sekarang ini, banyak sekali orang yang ‘lupa’ bahwa makanan dan minumnya, adalah rezeki dari Allah, sehingga mereka dengan mudah bermaksiat kepada Allah karena tidak pernah merasa ‘merepotkan’ Allah yang telah memberinya sedemikian banyak nikmat.“ Kata Ki Bijak.

“Benar Ki, sekarang banyak orang cenderung sombong, ia merasa nasi,air, udara dan sinar matahari adalah sesuatu yang biasa saja, tidak pernah berfikir bahwa itu semua karunia Allah.” Maula baru menyadari perbedaan pertama sikap Jahdar dengan manusia masa kini.

“Lalu perbedaan yang kedua, kalau dulu Jahdar menyadari bahwa sejengkal tanah saja yang ia pijak adalah bumi Allah, maka banyak orang masa kini yang merasa bahwa tanah yang ia pijak adalah ‘tanah’nya, sehingga dengan congkak dan sombong, mereka memperlakukan bumi dan tanah tanpa kenal batas, exploitasi dan merusaknya dengan membabi buta;”

“Yang ketiga, Jahdar dulu menyadari bahwa tidak ada satu celah sekecil lubang semutpun atau lebih kecil dari itu, yang luput dari pengawasan Allah, sementara banyak orang sekarang yang sama sekali tidak memperdulikan Allah, mereka melakukan kecurangan, melakukan korupsi, melakukan maksiat tanpa batas, karena lemahnya pengawasan atasan atau aparat, mereka ‘lupa’ bahwa Allah akan mencatat setiap pebuatan yang dilakukan oleh semua mahluk, demi Allah, jangankan korupsi 25 milyar, satu sen saja ada uang haram yang kita makan, dan kita tidak sempat bertobat dan memperbaikinya, kelak akan dimintakan pertanggung jawabannya di mahkamah Robbul izzati, kalau di dunia ini mereka lolos dari jerat hukum dunia karena kelemahan hukum dunia, karena jaksanya disuap, karena hakimnya disogok, maka di pengadilan akhirat, tidak ada selembar benangpun yang akan menutupi kesalahan yang diperbuat manusia di dunia ini.” Kata Ki Bijak lagi.

Hening, Maula diam terpaku, menyimak penuturan gurunya, ia sangat sependapat dengan gurunya, bahwa memang banyaknya kecurangan yang terjadi belakangan ini, adalah akumulasi dari degradasi keimanan terhadap existensi Allah, sebagian manusia lebih takut pada polisi, pada jaksa atau mereka sekedar takut pada hukum dunia, yang nyata-nyata lemah adanya.

“Yang kelima dan yang keenam; Jahdar menyadari sepenuhnya bahwa ia takkan mampu menolak kedatangan malaikat maut barang satu detikpun untuk menunda kematiannya, apalagi harus melawan Malaikat Zabaniyyah yang akan menyeret orang-orang berdosa kedalam neraka, sehingga kemudian Jahdar benar-benar bertobat, sementara kebanyakan manusia di zaman kita ini, sudah hampir ‘lupa’ bahwa dirinya akan mati, ketamakan, kerakusan akan dunia, sehingga kemudian menghalalkan segala cara untuk memilikinya, bersumber pada lemahnya keyakinan kebanyakan kita bahwa kita semua akan mati, bahwa semua apa yang kita kumpulkan dalam kehidupan dunia ini tidak akan dibawa kedalam kubur kecuali amal yang tidak seberapa.”

“Kemudian, keberadaan neraka sebagai tempat pembalasan bagi orang-orang berdosa, sekarang ini bergeser seolah hanya menjadi dongeng yang tidak pernah ada, sehingga mereka sama sekali tidak takut dengan peringatan Allah untuk menjauhi adzab neraka yang sangat pedih, padahal neraka itu adalah sesuatu yang haq; neraka itu pasti adanya, dan sebesar apapun dosa yang dilakukan, akan mendapat balasan yang setimpal, tidak kurang, tidak lebih.” Papar Ki Bijak lagi.

Tak ada tanggapan dari Maula, ia demikian menyimak setiap untai kata gurunya; Jahdar bin Rabi’ah, yang diakhir hayatnya menjadi pejuang kebenaran dengan menumpas gerombolan penjahat di negeri Yamamah, berulang kali nama itu saja yang melintas dalam benaknya, semoga taubatnya Jahdar bin Rabiah akan menjadi inspirasi bagi siapapun yang menginginkan kebaikan dalam kehidupan dunia dan akhiratnya.

Wassalam

sumber: http://bahasahati.blogspot.com/

Advertisements

About qatrunnada

"Allahu Ghoyatuna, ar-Rasul Qudwatuna, al-Quran Dusturuna, al-Jihad sabiluna, al Mautu fi sabilillah asma' a'malina..." maksudnya: "Allah adalah tujuan kami, Rasulullah teladan kami, al-Qur'an pedoman hidup kami, Jihad adalah jalan juang kami, mati di jalan Allah adalah cita2 kami tertinggi..." Jika hari ini aku terlalu gembira.. Sedarkanlah aku dengan amaran-amaran Allah.. Jika aku bersedih tanpa kata.. Pujuklah aku dengan zikir Pencipta.. Jika aku lemah tak bermaya.. Ingatkanlah aku dengan kehebatan syurga.. Jika antara kita ada tembok yang memisahkan.. Ajaklah aku meleraikan segera.. Jika pernah hatimu terluka.. luahkanlah agar aku berubah.. Dan.. Jika esok kulena tanpa terjaga.. Iringilah lenaku dengan kalungan doa... Berjanjilah Ukhwah Kita Untuk Selamanya... sesungguhnya manusia itu alpa.. selautan ilmu Allah, hanya setitik dimiliki.. namun, sang hamba tetap akur..semakin ilmu Tuhan itu diselami, semakin kecil dirasakan dirinya.. hanya hamba kepada Rabbul 'Izzati.. lantaran itu, sang hamba pantas memercikkan setitik imunya, agar dapat manusia lain merasai kedinginannya.. saling ingat mengingati.. nasihat menasihati...

2 responses »

    • insyaAllah…mohon nasihat dan doanya… artikel ni diambil dari 1 blog… ana tertarik, dan ingin berkongsi…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s