Monthly Archives: October 2010

Hidup di Dunia Hanya Sementara…

Standard

Manusia tinggal di dunia hanya untuk waktu yang singkat. Di sini, ia akan diuji, dilatih, kemudian meninggalkan dunia menuju kehidupan akhirat di mana ia akan tinggal selamanya. Harta benda serta kesenangan di dunia, walaupun diciptakan serupa dengan yang ada di akhirat, sebenarnya memiliki banyak kekurangan dan kelemahan karena harta benda dan kesenangan tersebut ditujukan hanya agar manusia mengingat hari akhirat.

Akan tetapi, orang yang ingkar tidak akan mampu memahami kenyataan ini sehingga mereka berperilaku seakan-akan segala sesuatu di dunia ini miliknya. Hal ini memperdaya mereka karena semua kesenangan di dunia ini bersifat sementara dan tidak sempurna, tidak mampu memuaskan manusia yang diciptakan untuk keindahan kesempurnaan abadi, yaitu Allah. Allah menjelaskan betapa dunia merupakan tempat sementara yang penuh dengan kekurangan,

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.? (al-Hadiid: 20)

Seperti yang tertulis dalam Al-Qur`an, orang-orang musyrik hidup hanya untuk beberapa tujuan, seperti kekayaan, anak-anak, dan berbangga-bangga di antara mereka. Dalam ayat lain, dijelaskan tentang hal-hal yang melenakan di dunia,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah, ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.? (Ali Imran: 14-15)

Sebenarnya, kehidupan di dunia tidak sempurna dan tidak berharga dibandingkan kehidupan abadi di akhirat. Untuk menggambarkan hal ini, dalam bahasa Arab, dunia mempunyai konotasi “tempat yang sempit, gaduh dan kotor�?. Manusia menganggap usia 60-70 tahun di dunia sangat panjang dan memuaskan. Akan tetapi, tiba-tiba kematian datang dan semua terkubur di liang lahad. Sebenarnya, ketika kematian mendekat, baru disadari betapa singkatnya waktu di dunia. Pada hari dibangkitkan, Allah akan bertanya kepada manusia.

“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.’ Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?? ( al-Mu’minuun: 112-115)



Mengabaikan Allah dan tidak mengacuhkan kehidupan akhirat, sepanjang hidup mengejar keserakahan dunia, berarti hukuman abadi di dalam api neraka. Orang-orang yang berada di jalan ini digambarkan Al-Qur`an sebagai “orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat�? . Bagi mereka, Allah memutuskan,

“Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.? (al-Baqarah: 86)

“Sesungguhnya, orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.? (Yunus: 7-8)

Bagi mereka yang lupa bahwa dunia merupakan tempat sementara dan mereka yang tidak memperhatikan ayat-ayat Allah, tetapi merasa puas dengan permainan dunia dan kesenangan hidup, menganggap memiliki diri mereka sendiri, serta menuhankan diri sendiri, Allah akan memberikan hukuman yang berat. Al-Qur`an menggambarkan keadaan orang yang demikian,

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).? (an-Naazi’aat: 37-39)

Semoga bisa menambah wawasan .. dan menyegarkan ingatan kita kembali .. tentang pentingnya mempersiapkan bekal untuk perjalanan hidup yang selanjutnya…

dipetik dari http://www.gagakmas.org

Advertisements

Generasi Islam

Standard

Menurut Dr. Yusuf Abdullah Al-Qardhawi, di antara ciri-ciri kecemerlangan generasi Islam adalah

1. Cita-cita besar para Muslah (perubah) Islam

2. Generasi yang terdiri daripada muslimin dan muslimat

3. Generasi yang percaya kepada realiti dan ilmu

4. Generasi amal dan membina Jamaai

5. Generasi rabbani dan ikhlas

6. Generasi yang bernasabkan Islam

1. Cita-cita besar para Muslah Perubah Islam adalah menjadi cita-cita besar para muslah (perubah) Islam yang mempunyai kesedaran tinggi agar terbentuk di dalam umat itu suatu generasi mukmin yang baru dan berhak untuk diberi gelaran ‘Jil al Nasr’ (generasi kemenangan) iaitu yang diperlukan oleh umat Islam kini.

2. Generasi yang terdiri daripada muslimin dan muslimat suatau generasi yang terdiri daripada muslimin dan muslimat, al-mukminin dan al-mukminat, al Qanitin dan al Qanitat, kerana kaum wanita di dalam Islam adalah saudara kam lelaki. perempuan menyempurnakan lelaki dan lelaki menyempurnakan perempuan.

3. Generasi yang percaya kepada realiti dan ilmu Generasi yang percaya kepada realiti dan ilmu adalah suatu generasi yand dapat mengatasi segala kegelapan dan meraba-raba, serta mengelakkan keadaan yang tidak teratur dan kacau bilau. Sebaliknya mereka berpegang teguh kepada kenyataan, bukan kepada prasangka dan agak-agak. Serta tidak sekali-kali lupa daripada mendongak ke langit, sedang ia berdiri teguh di atas bumi. Mereka tidak sekali-kali mengejar bayang-bayang atau impian kosong atau angan-angan, berenang bukan di air dan terbang tanpa sayap. 

4. Generasi amal dan membina Jamaai Genarasi amal dan membina jama’iy bukanlah generasi yang anak-anaknya akan berdiri hanya ketika didendangkan dengan keagungan-keagungan masa lampau, atau ketika tangisan dan sesalan kerana kekalahan-kekalahan yang diterima di masa kini atau ketika disogokkan dengan angan-angan kemenangan di

masa depan. akan tetapi mereka yang menaruh keyakinan bahawa keagungan ialah dengan memberi bukan dengan berbangga-bangga. bahawa sesungguhnya kemenangan ke atas tragedi hari ini dan mencapai cita-cita hari esok ialah dengan usaha dan kerja bersungguh-sungguh, bukan dengan senda gurau. dengan membina bukan meruntuh. dengan usaha amal yang memandu, bukan dengan gembar gembur dan jerit pekik kerana iman yang sebenar (al Haqq) adalah apa yang mantap di hati dan dibenarkan dengan perbuatan.

5. Generasi rabbani dan ikhlas Generasi rabbani dan ikhlas, adalah merak yang hidup dengan hati dan jiwa ahli akhirat. Mereka hidup di atas bumi tetapi hati dan jiwa mereka berterbangan dimahligai (‘arash) Allah. Mereka adalah dari tujuh golongan yang pendapat perlindungan di hari yang tidak terdapat sebarang perlindungan kecuaili perlindungan Allah semata.

6. Generasi yang bernasabkan Islam Generasi yang bernasabkan Islam adalah bilamana sesiapa yang bertanya kepada mereka tentang kewarganegaraan atau keturunan atau kecenderungan mereka, jawapan mereka adalah ‘muslimun’. Bukan dengan nama atau gelaran. Bukan dengan keturunan atau situasi alam sekitar. Tetapi dengan mengkaji dan bukti-bukti, dengan penuh perasaan dan akhlak. Mereka meyakini Islam dengan dalil yang terang dan jelas. Menolak fahaman jahiliah dengan pengetahuan. Megajak manusia ke jalan Allah dengan hujah yang nyata. Tidak mencari selain daripada Islam sebagai cara hidupnya. Tidak rela selain syariat Allah sebagai manhajnya. Tidak menerima selain daripada kitab Allah yakni Al Quran sebagai perlembagaanya.

-sumber-